DILANKIT (Pelepasan Implant Dengan Teknik Jungkit)

PERMASALAHAN

Di UPTD Puskesmas Tanjung selorm permasalahan yang utama adalah masih rendah capaian KB MKJP, terutama Implan. Hal ini terbukti dari hasil capaian KB aktif di UPT. Puskesmas Tanjung Selor pada tahun 2020 dan 2021. Capaian Akseptor KB Aktif Tahun 2020 – 2021 untuk KB Kondom : 301 tahun 2020, 262 tahun 2021. KB PIL : 1258 tahun 2020, 1081 tahun 2021. KB Suntik : 4584 tahun 2020, 4516 tahun 2021. KB AKDR : 554 tahun 2020, 600 tahun 2021. KB Implan : 420 Tahun 2020, 423 tahun 2021. KB MOW : 116 tahun 2020, 117 tahun 2021. KB MOP : 3 tahun 2020, 3 tahun 2021. 

Akseptor KB yang tidak ingin atau takut menggunakan alat kontrasepsi Jangka Panjang Implan ini dikarenakan masih rendahnya tingkat pengetahuan dari para akseptor KB, serta ketakutan akan efek samping dan tindakan pembedahan yang dilakukan. Hal ini terlihat dari survey yang dilakukan oleh penulis pada melalui pengisian lembar questioner dari gogle form trdapat 20 Akseptor KB yang melakukan pengisian lembar Gogle Form di dapatkan data bahwa  9 (69,2 %) dari akseptor KB tidak memakai Implan karena takut/trauma akan prosedur, tindakan, Tidak diijinkan suami sebanyak 1 (7,7 %), Tidak nyaman sebanyak 3 (23%).

Keterbatasan kemampuan atau skil dari petugas, juga berpengaruh dalam peningkatan capaian KB Implan, karena dengan semakin terampil/cekatan kemampuan petugas dalam memberikakan Asuhan Kebidanan Pelayanan KB maka akan meningkatkan keinginan pasien/akseptor KB untuk berKB Implan. Hal ini dikarenakan tindakan pelepasan KB Implan yang lama, durasi/waktu yang dibutuhkan untuk sekali tindakan merupakan salah satu faktor penyebab trauma ataupun ketakutan Akseptor KB implant untuk memakai KB Implan Ulang ataupun Akseptor KB Baru.  Ketika tindakan tersebut dilakukan dalam waktu yang singkat maka pasien akan berfikir lebih baik menggunakan KB Implan  dibandingkan KB yang lainnya, serta penangannan yang mudah. 

Menentukan Metode/teknik Pelepasan Implan juga sangat berpengaruh terhadap efektif tidaknya teknik tersebut. Sebagian besar Petugas Kesehatan masih memakai metode Konvensional ataupun metode Klem U dalam memberikan Asuhan pelayanan Kebidanan Pelayanan KB Pelepasan Implan. Cara ini dinilai membutuhkan waktu yang relative agak lama ± 10-15 menit untuk sekali tindakan Pelepasan Implan, sedangkan untuk pelepasan dan pemasagan lebih ≥15 menit. Selain itu Luka bekas insisi lebih lebar serta kerusakan jaringan ikat pada saat dilakukan tindakan lebih banyak, sehingga menimbulkan rasa sakit dan trauma/ketakutan yang berlebih pasca tindakan.

Dari hasil survei melalui pengisian kuesioner petugas Layanan kesehatan dalam hal ini Bidan didapatkan sebaian besar Petugas Layanan Kesehatan masih menggunakan metode konvensional dalam pelepasan Implan, sehingga masih membutuhkan waktu agak lama  kurang lebih 20-30 menit dalam 1 kali tindakan baik pelepasan maupun pemasangan Implan.

Pada saat Pelayanan KB MKJP diluar gedung ataupun KB Kes yang bekerja sama dengan berbagai Lintas Sektor, baik BKKBN(BP3AKB serta TNI dan Polri) maupun petugas dituntut untuk lebih cekatan dan terampil serta bagaimana memberikan Asuhan Kebidanan dalam memberikan pelayanan Kontrasepsi yang berkualitas tapi dalam jangka waktu relative cepat, mengingat banyak Jumlah peserta serta keterbatasan jumlah alat yang dipakai.

Selain itu, permasalahan lainnya adalah pada saat Pelayanan KB, terutama diluar gedung dengan jumlah akseptor yang banyak dan keterbatasan petugas serta alat petugas sering kewalahan dalam mengantisipasi masalah tersebut.

 

ISU STRATEGIS

Meskipun berada di wilayah perkotaan, Puskesmas Tanjung Selor tetap menghadapi berbagai tantangan strategis dalam pelayanan KB, khususnya kontrasepsi jangka panjang seperti implan. Mobilitas penduduk yang tinggi, keterbatasan waktu warga untuk mengakses layanan kesehatan, serta rendahnya minat terhadap metode kontrasepsi implan karena kekhawatiran efek samping menjadi isu utama. Selain itu, padatnya beban layanan di Puskesmas seringkali menghambat pemberian layanan KB yang cepat dan efisien.

Di sisi lain, urbanisasi menciptakan kelompok rentan baru seperti remaja, pekerja perempuan, dan ibu pasca persalinan yang tidak sempat mengakses pelayanan KB reguler. Kurangnya inovasi dalam pendekatan pelayanan berbasis komunitas dan terbatasnya tenaga kesehatan terlatih untuk pemasangan implan juga menjadi hambatan. Oleh karena itu, dibutuhkan strategi inovatif yang dapat menghadirkan layanan KB jangka panjang secara praktis, cepat, dan menjangkau langsung masyarakat di luar jam layanan reguler.

 

METODE PEMBAHARUAN

Kondisi Sebelum Inovasi 

Sebelum inovasi diterapkan, metode pelayanan kontrasepsi implan bersifat konvensional dan terbatas: 

  1. Pemasangan Implan hanya dilakukan di fasilitas kesehatan tetap (Puskesmas/Pustu/Poskesdes) karena memerlukan ruang tindakan steril dan alat medis standar.

  2. Prosedur tindakan memakan waktu relative lama, membutuhkan alat dan meja tindakan lengkap.

  3. Layanan pasif, menunggu masyarakat datang ke Puskesmas pada jam kerja.

  4. Tenaga kesehatan yang dapat melakukan tindakan terbatas, karena tidak semua nakes terlatih dan percaya diri untuk tindakan luar gedung

  5. Masyarakat enggan memilih implan, karena prosedur dianggap rumit, menyakitkan, dan sulit diakses.

Kondisi Setelah Inovasi

Setelah inovasi ini dikembangkan dan diterapkan, metode pelayanan mengalami pembaruan signifikan yang bersifat adaptif dan praktis:

  1. Diciptakannya alat bantu “jungkit”, yaitu alat modifikasi sederhana yang memudahkan pemasangan implan dengan teknik yang lebih cepat dan tidak membutuhkan ruang tindakan formal.

  2. Tindakan dapat dilakukan di luar gedung, seperti di posyandu, rumah warga, atau kantor desa, tanpa harus membawa peralatan besar.

  3. Waktu pemasangan menjadi lebih singkat, efisien, dan aman – rata-rata hanya 5–7 menit per akseptor.

  4. Tenaga kesehatan dibekali pelatihan khusus, sehingga lebih percaya diri dan terampil melakukan layanan KB di lokasi komunitas.

  5. Pelayanan bersifat jemput bola, langsung menyasar sasaran potensial seperti ibu pasca persalinan, remaja, atau pekerja wanita di komunitas.

  6. Masyarakat lebih tertarik menggunakan implan, karena prosesnya cepat, mudah, dan tersedia di lingkungan tempat tinggal.

KEUNGGULAN/KEBAHARUAN 

Inovasi DILANKIT menghadirkan terobosan dalam pelayanan kontrasepsi jangka panjang (implan) dengan menggabungkan penyederhanaan teknis alat dan pendekatan pelayanan jemput bola yang adaptif terhadap kondisi lapangan. Kebaharuan utama dari inovasi ini terletak pada: 

  1. Alat Modifikasi Sederhana dan Efisien 

Inovasi ini memperkenalkan alat bantu "jungkit", yaitu alat hasil modifikasi lokal yang dirancang untuk mempermudah proses pemasangan implan. Alat ini ringan, praktis, tidak memerlukan meja tindakan besar, dan dapat digunakan di berbagai lokasi pelayanan tanpa mengurangi aspek sterilitas dan keamanan

  1. Pelayanan Tidak Terbatas di Fasilitas Kesehatan 

Berbeda dengan layanan implan konvensional yang hanya bisa dilakukan di Puskesmas, inovasi ini memungkinkan pemasangan implan dilakukan di luar gedung seperti di rumah warga, posyandu, tempat kerja, bahkan di lokasi terpencil. Hal ini menjadikan pelayanan lebih fleksibel, menjangkau, dan ramah terhadap kebutuhan masyarakat.

  1. Efisiensi Waktu dan Tenaga 

Proses tindakan menjadi lebih cepat—hanya membutuhkan waktu sekitar 5–7 menit per akseptor—tanpa harus menyiapkan ruang tindakan lengkap. Ini membuat tenaga kesehatan bisa melayani lebih banyak akseptor dalam waktu singkat, bahkan di kegiatan massal. 

  1. Meningkatkan Kapasitas dan Kemandirian Nakes

Dengan pelatihan khusus penggunaan alat jungkit dan SOP yang jelas, tenaga kesehatan menjadi lebih percaya diri dan mandiri dalam memberikan layanan implan di lapangan. Inovasi ini sekaligus membangun kapasitas SDM lokal tanpa ketergantungan pada dokter spesialis atau fasilitas besar. 

  1. Memberikan Pengalaman Layanan yang Ramah dan dekat 

Pendekatan jemput bola dan edukasi langsung ke sasaran menjadikan inovasi ini lebih akrab dan diterima oleh masyarakat. Akseptor merasa diperhatikan, karena layanan datang langsung ke mereka, disesuaikan dengan kebutuhan dan waktu mereka. 

TAHAPAN/BISNIS PROSES INOVASI 

Inovasi DILANKIT dikembangkan melalui tahapan yang sistematis dan berbasis kebutuhan nyata di lapangan. Inovasi ini menjawab tantangan dalam pelayanan kontrasepsi jangka panjang (implan), khususnya dalam hal aksesibilitas, efisiensi tindakan, dan keterbatasan sumber daya di fasilitas kesehatan primer.

Berikut adalah tahapan/bisnis proses inovasi secara berurutan:

  1. Identifikasi Masalah dan Kebutuhan Lapangan 

Tahap awal dimulai dengan pemetaan masalah di wilayah kerja Puskesmas. Ditemukan bahwa cakupan pemakaian kontrasepsi implan rendah akibat akses terbatas, tindakan yang rumit, keterbatasan tenaga terlatih, dan kekhawatiran masyarakat terhadap prosedur implan. Masukan dari kader, survei akseptor, dan analisis data cakupan KB menjadi dasar pengembangan inovasi.

  1. Perancangan dan Pengembangan Solusi

Berdasarkan masalah tersebut, tim inovasi merancang alat bantu sederhana bernama “jungkit”. Alat ini merupakan hasil modifikasi alat pemasang implan konvensional agar dapat digunakan dengan lebih praktis dan fleksibel. Selain itu, disusun pula rancangan alur pelayanan berbasis jemput bola agar inovasi bisa menjangkau masyarakat secara langsung.

  1. Uji Coba Lapangan dan Validasi 

Prototipe alat jungkit dan prosedur penggunaannya diuji coba pada kegiatan pelayanan luar gedung, seperti posyandu dan kunjungan rumah. Umpan balik dari tenaga kesehatan dan akseptor dikumpulkan untuk menyempurnakan desain alat dan prosedur tindakan. Hasilnya menunjukkan bahwa inovasi ini aman, cepat, dan diterima dengan baik.

  1. Penyusunan SOP dan Pelatihan SDM 

Setelah terbukti layak, disusun Standar Operasional Prosedur (SOP) untuk penggunaan alat jungkit dan pelaksanaan layanan. Tenaga kesehatan, khususnya bidan di wilayah kerja Puskesmas, diberikan pelatihan agar memiliki keterampilan standar dan percaya diri dalam melakukan tindakan implan dengan metode baru ini, baik di dalam maupun luar gedung.

  1. Implemenetasi di Layanan Lapangan 

Inovasi mulai diimplementasikan secara luas melalui:

  • Pelayanan implan di posyandu atau kegiatan PKK

  • Kunjungan rumah bagi ibu pasca persalinan 

  • Layanan terpadu KB di kantor kelurahan/desa, kantor atau komunitas tenaga kesehatan membawa alat jungkit dan perlengkapan steril portable ke lokasi sasaran untuk melakkukan tindakan secara langsung.

  1. Edukasi dan Sosialisasi kepada Masyarakat 

Bersamaan dengan implementasi, dilakukan edukasi intensif tentang implan, manfaatnya, dan metode baru yang lebih mudah dan cepat. Edukasi dilakukan melalui kader, media sosial, dan dialog langsung dengan calon akseptor. Strategi ini membangun kepercayaan masyarakat terhadap layanan dan meningkatkan minat terhadap KB jangka panjang.

  1. Monitoring, Evaluasi dan Pengembangan Lanjutan

Proses inovasi tidak berhenti pada implementasi. Monitoring dan evaluasi dilakukan secara rutin dengan indikator seperti:

  • Jumlah a kseptor implan sebelum dan sesudah inovasi 

  • Lama waktu tindakan 

  • Tingkat kepuasan pengguna dan tenaga kesehatan 

  • Efektivitas alat jungkit di lapangan