DASAR HUKUM
Sebelum menetapkan dasar hukum dalam pelaksanaan inovasi, perlu dipahami bahwa setiap program yang dirancang harus memiliki keterkaitan yang kuat dengan regulasi yang berlaku agar tujuan inovasi dapat tercapai secara terarah, terukur, dan berkelanjutan. Inovasi GEMATI (Gerakan Makan Telur dan Ikan) merupakan program yang berfokus pada pembiasaan konsumsi makanan bergizi pada anak usia dini sebagai upaya peningkatan status gizi, kesehatan, dan tumbuh kembang anak secara optimal. Program ini tidak hanya bertujuan membentuk kebiasaan hidup sehat sejak dini, tetapi juga menjadi bagian dari kontribusi nyata satuan pendidikan dalam mendukung program pemerintah terkait pencegahan dan percepatan penurunan Stunting.
Keterkaitan inovasi GEMATI dengan dasar hukum yang digunakan sangat erat, karena sasaran utama program ini adalah anak usia dini yang berada pada masa emas pertumbuhan (golden age), yaitu periode penting dalam pembentukan kualitas sumber daya manusia. Melalui pemberian edukasi dan pembiasaan makan telur serta ikan secara rutin, inovasi ini mendukung terpenuhinya kebutuhan gizi anak, meningkatkan kualitas kesehatan, serta memperkuat peran keluarga dan lembaga pendidikan dalam mendukung tumbuh kembang anak secara menyeluruh.
Selain itu, sebagai lembaga PAUD, pelaksanaan inovasi GEMATI juga menjadi bagian dari tanggung jawab satuan pendidikan dalam memberikan layanan yang mendukung perkembangan fisik, kognitif, sosial, dan emosional anak secara optimal. Dengan demikian, dasar hukum yang digunakan menjadi landasan yang relevan dan kuat karena secara langsung mendukung tujuan inovasi yang sedang dilaksanakan.
Adapun dasar hukum yang mendukung pelaksanaan inovasi GEMATI adalah sebagai berikut :
. Peraturan Presiden Nomor 72 Tahun 2021 tentang Percepatan Penurunan Stunting
Pasal 2 (Strategi Nasional)
Pemerintah menetapkan Strategi Nasional Percepatan Penurunan Stunting dengan tujuan antara lain:
a. menurunkan prevalensi stunting;
b. meningkatkan kualitas kehidupan keluarga;
c. menjamin pemenuhan gizi;
d. memperbaiki pola asuh;
e. meningkatkan layanan kesehatan;
f. meningkatkan akses air minum dan sanitasi.
Pasal 3 (Sasaran Program)
Kelompok sasaran percepatan penurunan stunting meliputi anak usia 0–59 bulan, yang merupakan sasaran utama dalam inovasi GEMATI.
2. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
Pasal 28
Pendidikan Anak Usia Dini diselenggarakan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan anak secara optimal, sehingga program GEMATI menjadi salah satu bentuk implementasi nyata dalam mendukung pertumbuhan fisik dan kesehatan anak melalui pembiasaan konsumsi makanan bergizi di lingkungan sekolah.
PERMASALAHAN
Yayasan Nurudzulaam yang berada di wilayah pedesaan Kabupaten Bulungan memiliki karakteristik sosial ekonomi masyarakat yang didominasi oleh keluarga pekebun, petani, dan peternak. Kondisi ini pada satu sisi menunjukkan ketersediaan sumber pangan lokal yang cukup melimpah, termasuk telur dan ikan sebagai sumber protein hewani. Namun, pada kenyataannya, pemanfaatan sumber pangan tersebut dalam pola konsumsi anak usia dini masih belum optimal.
Adapun Data Permasalahan Rendahnya Cakupan Protein Anak Adalah sebagai berikut :
Berdasarkan hasil observasi awal dan pendataan yang dilakukan di lingkungan Yayasan Nurudzulaam, diketahui bahwa dari total 60 anak yang menjadi sasaran program, terdapat 45 anak (75%) yang memiliki cakupan konsumsi protein hewani rendah, khususnya dari sumber telur dan ikan. Anak-anak tersebut diketahui belum mengonsumsi telur dan ikan secara rutin sesuai kebutuhan gizi harian.
Adapun rinciannya sebagai berikut:
15 anak (25%) sudah terbiasa mengonsumsi telur dan ikan secara rutin (minimal 3–4 kali per minggu);
30 anak (50%) hanya mengonsumsi telur dan ikan sesekali (1–2 kali per minggu);
15 anak (25%) sangat jarang atau hampir tidak pernah mengonsumsi telur dan ikan.
Kondisi ini disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain:
Kurangnya pemahaman orang tua tentang pentingnya protein hewani bagi tumbuh kembang anak usia dini;
Kebiasaan makan anak yang cenderung memilih makanan tertentu (picky eater);
Kurangnya variasi penyajian makanan berbahan dasar telur dan ikan di rumah;
Faktor ekonomi keluarga yang memengaruhi pola konsumsi pangan bergizi.
Data tersebut menjadi dasar lahirnya inovasi GEMATI, sebagai upaya meningkatkan konsumsi protein hewani pada anak sehingga mendukung pertumbuhan optimal, mencegah stunting, serta membentuk kebiasaan makan sehat sejak dini.
Kalau ingin lebih kuat untuk proposal/lomba inovasi, data ini bisa
Berikut data tangkap ikan di kabupaten bulungan tahun 2023 :
Berdasarkan pengamatan di lingkungan yayasan, masih banyak anak yang memiliki kebiasaan makan yang kurang beragam dan cenderung rendah asupan protein hewani. Orang tua lebih sering memberikan makanan praktis dan karbohidrat sebagai sumber utama energi, sementara konsumsi telur dan ikan belum menjadi kebiasaan rutin dalam menu harian anak. Hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain kurangnya pengetahuan orang tua tentang pentingnya gizi seimbang, kebiasaan makan turun-temurun, serta persepsi bahwa makanan bergizi tinggi memerlukan biaya yang lebih besar.
Data Konsumsi Makanan Cepat Saji/Jadi (BPS Bulungan) sebagai berikut :
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Bulungan:
Pengeluaran Konsumsi: Rata-rata penduduk Kabupaten Bulungan menghabiskan sekitar Rp905,54 ribu per bulan untuk konsumsi makanan pada tahun 2024.
Tren Konsumsi: Pengeluaran per kapita untuk makanan secara umum mengalami peningkatan proporsi pada tahun 2024, yang menunjukkan konsumsi makanan jadi/cepat saji (makanan dan minuman jadi) tetap tinggi.
Jenis Makanan yang Dikonsumsi: Konsumsi makanan jadi mencakup roti (tawar/manis), kue basah, makanan gorengan (tahu, tempe, bakwan), sate, soto, nasi goreng, nasi campur, serta makanan siap saji berbasis daging/ayam.
Selain itu, terdapat tantangan dalam membangun minat anak terhadap konsumsi telur dan ikan. Sebagian anak kurang menyukai aroma atau tekstur ikan, serta belum terbiasa mengonsumsi telur secara teratur. Kurangnya edukasi yang menarik dan menyenangkan mengenai pentingnya protein hewani juga menjadi salah satu penyebab rendahnya kesadaran anak dalam memilih makanan sehat.
ISU STRATEGIS
ISU STRATEGIS TERKAIT PENURUNAN STUNTING
1. Isu Strategis Nasional
Stunting masih menjadi salah satu prioritas pembangunan nasional karena berdampak langsung pada kualitas sumber daya manusia Indonesia di masa depan. Pemerintah melalui Strategi Nasional Percepatan Penurunan Stunting menargetkan percepatan penurunan prevalensi stunting melalui intervensi spesifik dan sensitif secara terintegrasi. Pemenuhan gizi anak usia dini, khususnya konsumsi protein hewani seperti telur dan ikan, menjadi salah satu strategi utama untuk mencegah stunting sejak dini.
2. Isu Strategis Provinsi Kalimantan Utara
Kalimantan Utara sebagai provinsi berkembang masih menghadapi tantangan dalam pemerataan akses layanan kesehatan dan edukasi gizi, terutama di wilayah pedesaan dan daerah terpencil. Masih terdapat balita dengan status gizi kurang akibat rendahnya konsumsi makanan bergizi, sehingga diperlukan gerakan bersama dalam meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya asupan protein hewani bagi anak.
3. Isu Strategis Kabupaten Bulungan
Kabupaten Bulungan sebagai salah satu lokus percepatan penurunan stunting memiliki komitmen kuat dalam menekan angka stunting melalui kolaborasi lintas sektor. Namun masih ditemukan permasalahan seperti:
kurangnya pemahaman orang tua tentang pola makan sehat anak,
rendahnya kebiasaan konsumsi protein hewani pada anak usia dini,
keterbatasan edukasi gizi di lingkungan keluarga dan sekolah,
perlunya penguatan peran satuan pendidikan dalam mendukung program pencegahan stunting.
Melalui inovasi GEMATI (Gerakan Makan Telur dan Ikan), Yayasan Nurudzulaam berupaya mendukung program nasional, provinsi, dan kabupaten dalam percepatan penurunan stunting melalui pembiasaan konsumsi makanan bergizi pada anak sejak usia dini.
METODE PEMBAHARUAN
Kondisi Sebelum Inovasi
Dari 60 peserta didik yang ada di sekolah kami, baru sekitar 15 anak yang suka makan ikan dan telur secara teratur.
Orang tua yang sering mengeluhkan tentang anak yang tidak mau makan ikan, telur dan sayur.
Orang tua yang sering mengeluhkan tentang anak yang sering makan mie instan.
Belum adanya edukasi kapada orang tua
Peran serta orang tua dalam mendukung pola makan bergizi masih rendah.
Orang tua yang sering mengeluhkan tentang anak yang tidak mau makan ikan
Belum ada inovasi atau program khusus terkait peningkatan konsumsi protein hewani (telur dan ikan).
Belum adanya sistem monitoring dan evaluasi terhadap kebiasaan makan anak.
Kondisi Setelah Inovasi
Dampak pada Anak
Anak mulai terbiasa membawa bekal sehat setiap hari Jumat sesuai jadwal sekolah.
Anak menunjukkan peningkatan minat mengonsumsi lauk berbahan ikan dan telur.
Anak yang sebelumnya tidak suka ikan, perlahan mulai mau mencoba dan menghabiskan bekalnya.
Variasi olahan dari orang tua (nugget ikan, ikan suwir, telur kreasI, dll.) membuat anak tidak merasa bosan.
Anak menjadi lebih antusias saat waktu makan bersama karena menu yang menarik dan beragam.
Terjadi peningkatan kesadaran anak tentang pentingnya makanan bergizi sejak dini.
Anak mulai mengenal berbagai jenis olahan ikan dan telur sebagai sumber protein.
Kebiasaan makan sehat mulai terbentuk secara bertahap di lingkungan sekolah.
Anak terlihat lebih aktif dan berenergi dalam mengikuti kegiatan pembelajaran.
Dampak Sosial dan Kebiasaan
Anak saling berbagi cerita tentang bekal yang dibawa sehingga menumbuhkan rasa percaya diri.
Muncul interaksi positif antar anak saat makan bersama.
Anak meniru teman yang membawa dan menyukai menu ikan/telur.
Dampak Jangka Panjang (Awal Perubahan)
Terbentuknya pola makan sehat berbasis protein hewani sejak usia dini.
Mendukung pencegahan masalah gizi seperti stunting secara bertahap.
Anak memiliki kebiasaan memilih makanan sehat dibandingkan jajanan kurang bergizi.
KEUNGGULAN/KEBAHARUAN
Berbasis potensi lokal, memanfaatkan ketersediaan telur dan ikan dari lingkungan masyarakat sehingga mudah diterapkan dan berkelanjutan.
Melibatkan kolaborasi aktif antara sekolah dan orang tua dalam membangun kebiasaan makan sehat pada anak.
Mendorong peningkatan kesadaran gizi sejak usia dini sebagai upaya pencegahan masalah gizi, termasuk stunting.
TAHAPAN INOVASI/BISNIS PROSES INOVASI
1. Tahap Perencanaan
Pada tahap perencanaan, dilakukan identifikasi masalah, penyusunan program, serta koordinasi awal dengan seluruh pihak terkait.
Pihak yang terlibat:
Ketua Yayasan Nurudzulaam → sebagai penanggung jawab utama.
Kepala Satuan Pendidikan/PAUD → mengkoordinasikan pelaksanaan program di lingkungan sekolah.
Guru/Pendidik → melakukan observasi awal terhadap kebiasaan makan anak serta menyusun strategi pembiasaan di kelas.
Orang Tua/Wali Murid → memberikan informasi awal terkait pola makan anak di rumah.
Komite Sekolah/Yayasan → memberikan dukungan kebijakan dan masukan program.
Puskesmas Tanjung Palas / Tenaga Kesehatan Puskesmas Tanjung Palas → memberikan edukasi gizi dan data kesehatan anak.
Kader Posyandu Posyandu → membantu data awal status gizi anak.
Pemerintah Desa Gunung Putih Pemerintah Desa Gunung Putih → mendukung kebijakan dan sinergi program di tingkat desa.
2. Tahap Pelaksanaan
Tahap ini merupakan implementasi program GEMATI melalui kegiatan rutin konsumsi telur dan ikan serta edukasi gizi.
Pihak yang terlibat:
Peserta Didik/Anak-anak Yayasan Nurudzulaam → sasaran utama sekaligus pelaku pembiasaan makan sehat.
Guru/Pendidik → mendampingi kegiatan makan bersama, edukasi gizi, dan pembiasaan harian.
Orang Tua/Wali Murid → menyiapkan bekal sehat berbahan telur dan ikan dari rumah.
Petugas Kesehatan/Narasumber Gizi Puskesmas Tanjung Palas → memberikan penyuluhan melalui kegiatan Isi Piringku.
Kader Posyandu Posyandu → membantu edukasi dan pemantauan tumbuh kembang anak.
Kepala Sekolah → memastikan ketersediaan sarana dan dukungan pelaksanaan program.
Adapun kegiatannya Adalah :
Melaksanakan kegiatan makan bersama telur dan ikan
Setiap hari jumat berupa membawa bekal dari rumah untuk di makan bersama- sama di sekolah.
Mengajak anak terlibat dalam kegiatan sederhana seperti mengenal jenis makanan bergizi dan cara pengolahannya di Sekolah.
Melibatkan orang tua melalui kegiatan ”isi piring ku “ yang melibatkan petugas Kesehatan sebagai nasarasumbernya.
Membuat variasi menu telur dan ikan agar menarik dan disukai anak.
3. Tahap Monitoring dan Evaluasi (Monev)
Tahapan ini bertujuan untuk melihat dampak inovasi, mengukur keberhasilan, dan menentukan tindak lanjut program.
Pihak yang terlibat:
Kepala Sekolah→ melakukan evaluasi umum terhadap capaian program.
Guru/Pendidik → mencatat perubahan kebiasaan makan dan perkembangan anak.
Orang Tua/Wali Murid → memberikan umpan balik terkait perubahan pola makan anak di rumah.
Petugas Kesehatan/Puskesmas Puskesmas Tanjung Palas → membantu evaluasi status gizi dan konsultasi kesehatan anak.
Kader Posyandu Posyandu → mendukung pemantauan berat badan dan pertumbuhan anak.
Komite/Yayasan → menilai keberlanjutan dan pengembangan program.
Pemerintah Desa Pemerintah Desa Gunung Putih → sebagai mitra dukungan keberlanjutan inovasi di masyarakat.
Bentuk Kolaborasi yang Terbangun
Melalui inovasi GEMATI, terbentuk kolaborasi pentahelix sederhana yang melibatkan:
Pemerintah (desa, puskesmas),
Lembaga pendidikan (yayasan, guru),
Masyarakat (orang tua, kader posyandu),
Dunia usaha lokal (penyedia telur dan ikan),
Akademik/tenaga ahli (narasumber kesehatan/gizi),
sehingga inovasi ini menjadi lebih kuat, partisipatif, berkelanjutan, dan berdampak nyata terhadap percepatan penurunan Stunting di Kabupaten Bulungan.