Undang-Undang No. 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah.
Permendagri No. 104 Tahun 2018 tentang Penilaian dan Pemberian Penghargaan dan/atau Insentif Inovasi Daerah.
Peraturan Presiden No. 72 Tahun 2021 tentang Percepatan Penurunan Stunting.
RPJMD Kabupaten Bulungan Tahun 2021–2026 yang memuat target peningkatan kualitas pelayanan kesehatan.
Peraturan Menteri Kesehatan No. 97 Tahun 2014 tentang Pelayanan Kesehatan pada Masa Kehamilan, Persalinan, dan Nifas.
Instruksi Presiden No. 9 Tahun 2020 tentang Percepatan Pengurangan AKI dan AKB
PERMASALAHAN
Menurut data profil kesehatan Provinsi Kalimantan Utara tahun 2019 terdapat 21 kasus jumlah kematian ibu pada tahun 2020 yaitu sebanyak 18 kasus dari 148/100.000 kelahiran hidup dan pada tahun 2021 jumlah kematian ibu yaitu sebanyak 29 dari 223/100.000 kelahiran hidup (Profil Dinas Kesehatan Kalimantan Utara, 2021).
Angka Kematian Ibu (AKI), pada tahun 2020 di Kabupaten Bulungan yaitu sebesar 76/100.000 kelahiran hidup atau sebanyak 2 kasus dari 2.636 Kelahiran hidup. Sedangkan data tahun 2021 dilaporkan angka kematian ibu naik signifikan sebesar 338/100.000 kelahiran hidup atau sebanyak 9 kasus dari 2.658 kelahiran hidup (Profil Dinas Kesehatan Kabupaten Bulungan, 2021).
Kasus kematian ibu dan bayi di Kabupaten Bulungan perlu mendapat perhatian serius dari seluruh komponen pemerintah daerah serta masyarakat karena peningkatan Angka Kematian Ibu (AKI), dan Angka Kematian Bayi (AKB) menjadi masalah yang sangat mendasar yang merupakan salah satu indikator yang di gunakan dalam indeks pembangunan ekonomi, indikator kualitas hidup dan komponen utama penentu angka harapan hidup suatu masyarakat.
Untuk mengatasi masalah kesehatan pada masa reproduksi, masa kehamilan, persalinan dan masa nifas (pasca persalinan). Perlu melibatkan ketersediaan dan akses pelayanan dasar dan pelayanan reproduksi untuk wanita dari remaja hingga hamil, melahirkan dan pasca melahirkan; untuk bayi baru lahir hingga masa kanak-kanak, hingga masa dewasa muda. Pelayanan atau intervensi di hulu merupakan semua bentuk pelayanan di level rumah tangga dan masyarakat seperti program KB, perbaikan gizi, wanita, dan sosial ekonomi. Intervensi di hilir adalah bagaimana meningkatkan mutu pelayanan klinik untuk ibu dan anak di rumah sakit. Intervensi harus dilaksanakan secara menyeluruh dan terintegrasi karena penyebanya multi faktor maka harus diselesaikan secara multi sektor.
Upaya penurunan Angka Kematian Ibu (AKI), dan Angka Kematian Bayi (AKB) tidak bisa menjadi tanggung jawab satu sektor saja, melainkan perlu keterlibatan dan peran stakeholder lainnya untuk mempercepat penurunan Angka Kematian Ibu (AKI), Angka Kematian Bayi (AKB).
Berdasarkan gambaran singkat tersebut di atas, maka perlu dilakukan upaya terobosan atau inovasi agar pengambilan kebijakan dilakukan dengan dengan memperhitungkan potensi daerah di segala bidang terkait dengan optimalisasi peran dan meningkatkan kerja sama lintas sektor. Dimana semua inovasi yang dilakukan, akan diuraikan dalam penulisan Proyek Perubahan ini dengan judul “Strategi Menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI), dan Angka Kematian Bayi (AKB) melalui Gerakan Bersama Peduli Ibu dan Bayi (SI MAK INA GERAM) di Kabupaten Bulungan Provinsi Kalimantan Utara”.
Permasalahan Makro:
Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) di Kabupaten Bulungan masih tergolong beresiko tinggi dibandingkan rata-rata nasional.
Cakupan akses layanan kesehatan maternal dan neonatal belum merata di wilayah terpencil dan perbatasan.
Rendahnya partisipasi lintas sektor dalam mendukung kesehatan ibu dan anak.
Permasalahan Mikro:
Minimnya deteksi dini komplikasi kehamilan di tingkat keluarga.
Kurangnya edukasi keluarga terkait tanda bahaya kehamilan dan pasca persalinan.
Layanan rujukan tidak optimal karena keterbatasan SDM dan sarana transportasi di wilayah terpencil.
ISU STRATEGIS
Aksesibilitas: Ketimpangan akses layanan kesehatan ibu dan bayi di wilayah pedalaman dan perbatasan.
Kualitas SDM: Masih terbatasnya tenaga kesehatan terlatih untuk penanganan komplikasi obstetrik dan neonatal.
Sistem Rujukan: Tidak optimalnya sistem rujukan yang cepat dan responsif.
Kolaborasi: Minimnya keterlibatan lintas sektor, terutama perangkat desa, tokoh masyarakat, dan lembaga swadaya.
Berdasarkan Rencana Strategis (RENSTRA) Dinas Kesehatan Kabupaten Bulungan Tahun 2021- 2026 yang mendukung Visi Pemerintah Daerah: “Mewujudkan Kabupaten Bulungan yang Berdaulat Pangan, Maju dan Sejahtera”. Berkaitan isu strategis Dinas Kesehatan Kabupaten Bulungan maka berkaitan dengan Misi 2 yaitu “Meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia yang Sehat, Cerdas, Berkarakter dan Berdaya Saing”.
Dalam mendukung terwujudnya pelayanan kesehatan yang berkualitas sesuai standar maka perlu didukung oleh sarana dan prasarana yang memadai serta mudah diakses oleh masyarakat. Adapun gambaran ketersediaan sarana dan prasana di Kabupaten Bulungan terdiri dari Rumah Sakit Umum Daerah sebanyak 1 (satu) unit, Puskesmas sebanyak 12 unit, 9 (sembilan) Puskesmas Rawat Inap dan 3 (tiga) Puskesmas Rawat Jalan).
Selain fasilitas pelayanan kesehatan juga terdapat beberapa jejaring dan jaringan puskesmas yang berfungsi untuk mendekatkan akses masyarakat yang dikelola dan diselenggarakan dari, oleh, untuk dan bersama masyarakat dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan melalui upaya memberdayakan masyarakat dan memberikan kemudahan kepada masyarakat dalam memperoleh pelayanan kesehatan dasar untuk mempercepat penurunan Angka Kematian Ibu (AKI), Angka Kematian Bayi (AKB) dan stunting yang disebut Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat (UKBM) yang harus dilaksanakan secara berkelanjutan dan berkesinambungan antara lain Posyandu sebanyak 208 unit, Pos Bersalin Desa (Polindes) sebanyak 48 unit, Puskesmas Pembantu (Pustu) sebanyak 45 unit dan Pos Kesehatan Desa (Poskesdes) sebanyak 37 unit.
Walaupun sarana kesehatan di wilayah Kabupaten Bulungan tercatat cukup banyak tidak berarti dapat menggambarkan bahwa semua daerah di wilayah kerja Kabupaten Bulungan telah mendapatkan pelayanan kesehatan secara merata. Hal ini disebabkan masih ada beberapa daerah yang karena letak geografisnya sulit menjangkau pelayanan kesehatan yang memadai.
Berdasarkan hasil analisa masalah bahwa ada beberapa faktorfaktor yang mempengaruhi tingginya Angka Kematian Ibu (AKI), dan Angka Kematian Anak (AKB) di Kabupaten Bulungan yaitu :
Belum optimalnya kerjasama antar lintas sektor, swasta dan masyarakat untuk mendukung upaya kelangsungan hidup serta upaya peningkatan kualitas hidup dan perlindungan kesehatan anak, menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI), dan Angka Kematian Bayi (AKB)
Belum ada regulasi menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI), dan angka kematian bayi (AKB)
Keterbatasan sumber daya strategis yang berkualitas untuk mendukung program kesehatan keluarga di Dinas Kesehatan maupun Puskesmas;
Rendahnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat tentang kesehatan ibu, anak dan reproduksi;
Akses dan kualitas pelayanan kesehatan ibu dan anak belum optimal dan masih perlu ditingkatkan;
Dukungan terhadap Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K) oleh Masyarakat belum maksimal
Belum optimalnya jejaring dan regionalisasi rujukan maternal dan neonatal antara pelayanan primer Rumah Sakit dan Dinas Kesehatan;
Rendahnya kepatuhan terhadap standard pelayanan di fasilitas pelayanan kesehatan dasar dan rujukan belum seperti yang diharapkan (antara lain karena kurangnya Bidan Kit, IUD Kit, Partus Kit, PONED Kit dan PONEK Kit).
METODE PEMBAHARUAN
Sebelum Inovasi (Kondisi Eksisting):
Pendataan ibu hamil dan bayi dilakukan manual dan tidak terintegrasi.
Edukasi ke masyarakat dilakukan sporadis dan tidak masif.
Penanganan risiko tinggi tidak terpantau secara sistemik.
Kurangnya sistem koordinasi lintas sektor.
Setelah Inovasi (SI MAK INA GERAM):
Pembentukan Tim Peduli Ibu dan Bayi di tingkat desa (terdiri dari bidan, kader, tokoh masyarakat, dan aparat desa).
Penggunaan formulir deteksi risiko ibu hamil dan bayi yang terintegrasi dengan sistem pelaporan puskesmas.
Peningkatan intensitas kunjungan rumah oleh kader dan bidan, terutama untuk ibu hamil risiko tinggi.
Penguatan rujukan berbasis komunitas siaga dan penyediaan transportasi darurat desa.
KEUNGGULAN/KEBAHARUAN
Keunggulan : Kader dan masyarakat aktif menjadi bagian dari solusi penurunan AKI/AKB, Memberdayakan perempuan di tingkat komunitas sebagai agen perubahan kesehatan, serta Dapat diterapkan di kabupaten lain dengan kondisi geografis serupa.
Kebaharuan : Pendekatan kolaboratif lintas sektor berbasis desa dalam pemantauan ibu-bayi.
TAHAPAN/BISNIS PROSES INOVASI
Identifikasi Masalah : Pemantauan kasus AKI/AKB dan analisis penyebab langsung & tidak langsung.
Desain Program : Perumusan konsep SI MAK INA GERAM dan penyusunan modul pelatihan.
Sosialisasi : Penyuluhan kepada stakeholder kecamatan dan desa.
Pelatihan : Pelatihan kader, bidan, dan aparat desa dalam deteksi dini dan intervensi.
Pelaksanaan : Implementasi pemantauan ibu dan bayi secara berkala.
Evaluasi Berkala : Monitoring, evaluasi capaian, dan perbaikan metode.