TANA HATI ACIL (Pedekatan Pelayanan Kesehatan Daerah Terpencil)

PERMASALAHAN

Kabupaten Bulungan merupakan salah satu kabupaten yang berada di propinsi Kalimantan Utara yang terdiri dari 10 kecamatan, 7 kelurahan dan 74 desa, dengan jumlah penduduk saat ini berdasar pendataan sensus 2020 sebanyak 151.884 jiwa dengan sebaran penduduk 9 jiwa per km2 serta memiliki 12 Puskesmas.  UPTD Puskesmas Bumi Rahayu memiliki 2 kawasan yang termasuk desa terpencil yaitu desa Sajau Km 32 dimana terdapat suku Punan Batu  yang memiliki kurang lebih sekitar 33 KK berjumlah 106 jiwa dan warga KM 57 yang merupakan warga perbatasan Tanjung Selor (Kalimantan Utara)-Berau (Kalimantan Timur) memiliki kurang lebih 298 KK berjumlah 941 jiwa.3 Pelayanan kesehatan di daerah terpencil di km 32 dan km 50 sudah sejak lama dilakukan dalam bentuk Pusling (Puskesmas Keliling) dan Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) namun belum dilakukan secara optimal. Hal inilah yang mendasari penulis berinisiatif membuat inovasi pendekatan pelayanan kesehatan di kawasan terpencil disingkat Tana Hati Acil. Permasalahan pelayanan kesehatan primer yang belum optimal di km 32 dan belum terbentuk posyandu  tempat pelayanan yang menetap di km 57. Maka dibuatlah inovasi Pendekatan Pelayanan Kesehatan Di Kawasan Terpencil TANA HATI ACIL, ruang lingkup pada perubahan pelayanan publik dimana pelayanan daerah terpencil km 32 dan 57 dengan mendatangi langsung lokasi dari masyarakat suku pedalamam di km 32 dan km 57 sehingga mengurangi biaya transport dari masyarakat pedalaman suku punan batu km 32 dan km 57. Dengan adanya SDM dari tenaga kesehatan dan kader di masyarakat  serta peran lintas sektor, pemangku kebijakan daerah serta stakeholder(Desa, Kecamatan, PT PKN) di daerah sekitar menjadi peluang yang berguna sebagai kekuatan dalam hal meningkatkan advokasi layanan kesehatan serta lebih memperhatikan masyarakat daerah terpencil tidak hanya dari segi kesehatan namun dari seluruh aspek kehidupan baik itu pendidikan,ekonomi,agama sosial dan budaya.

ISU STRATEGIS

Sesuai nawacita presiden tentang transformasi pelayanan kesehatan, Kementerian Kesehatan sejauh ini telah melakukan upaya pendekatan pelayanan kesehatan untuk meningkatkan pelayanan kesehatan di DTPK, yaitu melalui pemerataan  tenaga  kesehatan, peningkatan sarana dan prasarana, peningkatan pembiayaan, pengadaan perbekalan, obat dan alat kesehatan. Dalam mewujudkan transformasi layanan primer maka puskesmas perlu meningkatkan kapasitas dan kapabilitas layanan primer dengan membangun akses layanan kesehatan di daerah terpencil dan sangat terpencil sehingga mudah dijangkau dan berkualitas secara terintegrasi, terpadu dan berkesinambungan. Pelaksanaan pelayanan kesehatan di Kabupaten Bulungan menghadapi berbagai tantangan strategis sebagai berikut:

Ketimpangan Pembangunan daerah terpencil Salah satu tantangan utama pembangunan di Kabupaten Bulungan adalah terjadinya ketimpangan antar wilayah, khususnya antara pusat pertumbuhan ekonomi di Tanjung Selor dengan desa-desa di kecamatan lain. Hal ini ditandai dengan konsentrasi infrastruktur, layanan publik, dan aktivitas ekonomi yang tidak merata. Banyak desa masih tertinggal dari sisi aksesibilitas, kapasitas kelembagaan, dan partisipasi dalam proses pembangunan. Di daerah-daerah terpencil, kurangnya infrastuktur dan tenaga medis yang memadai merupakan suatu tantangan kesehatan. Untuk Mengatasi ketimpangan ini perlu pengembangan sistem kesehatan yang lebih inklusif dan berkelanjutan. Degradasi Ekosistem dan Rendahnya Kesadaran Ekologis Kabupaten Bulungan memiliki kawasan hutan yang luas (±949.080 hektar), namun belum sepenuhnya terkelola secara lestari. Praktik pembangunan yang eksploitatif, belum adanya tata kelola pemerintah yang mendorong pelestarian lingkungan, serta minimnya edukasi ekologis di tingkat desa menyebabkan tingginya risiko degradasi lingkungan. Alih fungsi lahan, buruknya sistem pengelolaan sampah, dan rendahnya kapasitas mitigasi bencana di tingkat lokal menjadi persoalan ekologis yang mengancam kualitas hidup masyarakat desa. Penduduk suku punan batu yang hidupnya di hutan ikut terimbas dengan adanya ekploitasi lahan yang merusak ekosistem dan ujungnya berdampak kualitas kehidupan dan kesehatan. Rendahnya Kapasitas Tata Kelola dan Inovasi di Tingkat Desa Masih banyak desa yang belum memiliki kemampuan teknis dan kelembagaan yang memadai dalam mengelola program pembangunan berbasis lingkungan. Tata kelola berbasis data, pelaporan berbasis digital, serta pendekatan kolaboratif masih menjadi tantangan. Padahal, untuk mencapai desa yang tangguh dan mandiri secara berkelanjutan, dibutuhkan peran aktif desa sebagai pelaksana utama pembangunan. Melalui identifikasi isu-isu strategis ini, inovasi Tana HAti Acil hadir sebagai bentuk kepedulian kesehatan untuk: Memberikan akses kemudahanpelayanan kesehatan Mendorong tata kelola pemerintah dalam pelestarian lahan di kawasan terpencil km 32. Memperkuat peran desa sebagai pelaku utama pembangunan dan lintas sektor terkait dalam pemberian layanan kesehatan METODE PEMBAHARUAN

Kondisi Sebelum Inovasi Pelayanan Puskesmas Keliling (Pusling) dilakukan di rumah Tokoh Masyarakat Pembina suku punan di pinggir jalan km 32 dan 57, dimana penduduk suku punan batu harus mendatangi tempat tersebut dengan menggunakan alat transportasi ketinting yang menyesuaikan jadwal pelayanan yang telah disepakati. Selain itu belum ada keterlibatan pihak luar dalam membantu program lain dalam bentuk layanan pemeriksaan seperti laboratorium. Kondisi Setelah Inovasi Pelayanan Puskesmas Keliling (Pusling) saat ini dilakukan dengan menjangkau langsung hunian penduduk suku punan batu dengan masuk langsung ke tempat tinggal suku punan batu, sehingga mengurangi biaya dari pemakaian ketinting bila harus keluar dari hunian. Dalam jenis pelayanan juga terdapat tambahan pelayanan laboratorium dasar yang melibatkan kerjasama dengan pihak luar yaitu peneliti tentang masyarakat punan batu, sehingga memudahkan dalam penegakan diagnosis.

KEUNGGULAN/KEBAHARUAN

Inovasi TANA HATI ACIL menghadirkan sebuah terobosan dalam pelayanan kesehatan dengan menjangkau layanan kesehatan sampai ke hunian suku punan batu. Pembaharuan utama dari program ini terletak pada titik tangkap dan kemudahan dalam mengakses layanan kesehatan bagi masyarakat suku punan batu, bukan hanya dari kemudahan akses dan jenis pelayanan kesehatan yang di berikan.

TAHAPAN/BISNIS PROSES INOVASI Rangkaian kegiatan-kegiatan dan aksi yang dirancang adalah sebagai berikut :

  1.    Menyusun Tim pembentukan Posyandu Gerbang Kaltara

  2.    Merencanakan setiap agenda kegiatan

  3.    Penetapan output kegiatan 

  4.    Melaksanakaan advokasi atau rapat koordinasi dengan para pihak terkait 

  5.    mendokumentasikan seluruh tahapan kegiatan

  6.    Menyusun dan penandatangan nota kespakatan bersama lintas sektor terhadap pelayanan kesehatan terpadu dan posyandu

  7.    Menyusun nota kesepahaman tentang kader Posyandu Gerbang Kaltara 

  8.    Pelaksanaan TANA HATI