POJOK ESTEH PTM (Pentingnya Observasi Jaga Kondisi Kesehatan Dengan Edukasi Sehat Enyahkan Penyakit Tidak Menular)

PERMASALAHAN

Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan bahwa 71% kematian di seluruh dunia pada tahun 2016 disebabkan oleh PTM (41 juta kematian), terdiri dari penyakit jantung dan pembuluh darah (PJPD) 17,9 juta (31%), penyakit saluran pernapasan kronik 3,9 juta (6,8%), kanker 9 juta (15,6%), diabetes melitus 1,6 juta (2,8%), serta PJPD lainnya sebesar 5,9 juta (16%). Di tingkat nasional, hasil Riskesdas 2018, menunjukkan prevalensi PTM mengalami kenaikan jika dibandingkan dengan Riskesdas 2013, antara lain kanker, stroke, penyakit ginjal kronis, diabetes melitus dan hipertensi. Prevalensi Kanker naik dari 1,4% (2013) menjadi 1,8% (2018); prevalensi stroke naik dari 7% (2013) menjadi 10,9% (2018), penyakit ginjal kronis naik dari 2‰ (2013) menjadi 3,8‰ (2018). Berdasarkan pemeriksaan gula darah, prevalensi diabetes melitus naik dari 6,9% (2013) menjadi 8,5% (2018) dan hasil pengukuran tekanan darah menunjukkan peningkatan prevalensi hipertensi dari 25,8% (2013) menjadi 34,1% (2018). Berdasarkan data di atas, tampak adanya peningkatan prevalensi PTM dan persentase penduduk dengan faktor risiko perilaku yang tidak sehat yang seharusnya dapat dikendalikan melalui kebijakan dan strategi pengendalian PTM yang tepat. Untuk itu perhatian difokuskan kepada jenis PTM yang mempunyai dampak besar baik dari segi morbiditas maupun mortalitasnya, sehingga menjadi isu kesehatan masyarakat, disebut sebagai PTM utama, yaitu penyakit kardiovaskuler, diabetes melitus, penyakit paru kronik, dan kanker. Sebagian besar PTM memiliki faktor risiko perilaku bersama, yaitu merokok, kurang aktivitas fisik, diet tidak sehat, dan mengkonsumsi alkohol. Dari hasil penilaian kinerja program Puskesmas, khususnya indikator program PTM Kabupaten Bulungan pada wilayah kerja UPTD Puskesmas Tanjung Selor, jumlah screening Penyakit Tidak Menular pada tahun 2022 sebanyak 9751 pasien dan didapatkan 3220 yang berisiko PTM. Setelah dilakukan evaluasi ditemukan beberapa kemungkinan capaian skrining ini tidak tercapai, yakni kesadaran masyarakat yang rendah akan pentingnya skrining penyakit tidak menular, bahaya dari penyakit tidak menular dan juga mobilitas warga yang cukup tinggi di wilayah Kabupaten Bulungan. Oleh karena hal tersebut, maka inovasi POJOK ESTEH PTM dihadirkan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya deteksi dini penyakit tidak menular ini.

ISU STRATEGIS

Dalam upaya menanggulangi peningkatan prevalensi penyakit tidak menular (PTM) seperti hipertensi, diabetes, dan kanker, daerah menghadapi berbagai isu strategis dalam mengembangkan inovasi di bidang kesehatan. Salah satu tantangan utama adalah rendahnya cakupan skrining PTM akibat keterbatasan sumber daya manusia, alat kesehatan, serta belum optimalnya pemanfaatan Posbindu di tingkat komunitas. Selain itu, akses layanan skrining di daerah terpencil dan wilayah 3T masih sangat terbatas, sehingga masyarakat berisiko tinggi seringkali tidak terdeteksi sejak dini. Inovasi berbasis digital juga belum banyak dimanfaatkan secara optimal, baik dalam hal edukasi maupun pencatatan hasil skrining. Kurangnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya deteksi dini menjadi penghambat lain, yang diperparah dengan minimnya dukungan lintas sektor dan keterlibatan komunitas. Hal ini sejalan dengan arah kebijakan nasional dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020–2024, yang menekankan penguatan upaya promotif dan preventif, khususnya dalam pengendalian penyakit tidak menular melalui pendekatan berbasis keluarga, peningkatan cakupan skrining faktor risiko PTM, serta pemanfaatan teknologi informasi dalam pelayanan kesehatan. Namun di sisi lain, banyak inovasi yang telah dilakukan di daerah belum dilembagakan dalam kebijakan daerah, seperti Peraturan Daerah (Perda) atau rencana pembangunan jangka menengah (RPJMD), sehingga keberlanjutannya belum terjamin. Kondisi ini menunjukkan bahwa pengembangan inovasi daerah untuk pengendalian PTM memerlukan pendekatan yang lebih integratif, berkelanjutan, dan berbasis kebutuhan lokal.

METODE PEMBAHARUAN/ KEBARUAN INOVASI

Kondisi Sebelum Inovasi

Sebelum inovasi POJOK ESTEH PTM diterapkan, upaya pencegahan dan pengendalian Penyakit Tidak Menular (PTM) masih berjalan secara konvensional dan terbatas. Pelayanan deteksi dini, seperti pemeriksaan tekanan darah, gula darah, dan kolesterol hanya dilakukan pada saat tertentu, misalnya saat Posbindu atau pemeriksaan di Puskesmas. Akses masyarakat terhadap layanan ini masih rendah, karena harus datang ke fasilitas kesehatan yang kadang tidak mudah dijangkau, terutama bagi masyarakat usia produktif dan kelompok rentan.

Metode edukasi pun masih bersifat monoton dan satu arah, seperti ceramah dalam forum formal, tanpa memperhatikan preferensi dan konteks lokal masyarakat. Tidak ada pendekatan yang menyesuaikan dengan kebiasaan atau rutinitas masyarakat, sehingga partisipasi dan dampak edukasi rendah. Kegiatan promotif dan preventif tidak menyatu dengan kegiatan masyarakat sehari-hari, serta belum memanfaatkan strategi komunikasi dan lokasi yang strategis.

Kondisi Setelah Inovasi

Inovasi POJOK ESTEH PTM hadir sebagai bentuk pembaharuan pendekatan layanan promotif dan preventif yang lebih aktif, strategis, dan terintegrasi dalam kehidupan masyarakat. Inovasi ini menggunakan metode pendekatan jemput bola dengan cara menghadirkan layanan deteksi dini dan edukasi interaktif langsung ke titik-titik berkumpul masyarakat, seperti CFD (car free day), OPD, tempat ibadah, sekolah, dan kegiatan komunitas lainnya.

Metode edukasi juga diperbarui menjadi lebih partisipatif dan menarik, melalui diskusi kelompok, simulasi, kuis, hingga media visual yang mudah dipahami oleh masyarakat. Selain itu, inovasi ini menggabungkan pemeriksaan sederhana dengan edukasi langsung, sehingga masyarakat tidak hanya diperiksa tetapi juga memahami makna dari hasilnya dan langkah pencegahannya. Adanya sinergi dengan kader, tokoh masyarakat, dan lintas sektor membuat pelaksanaan lebih terarah dan berkelanjutan.

Dengan pendekatan ini, akses meningkat, kesadaran bertambah, dan partisipasi masyarakat dalam pengendalian PTM menjadi lebih aktif, karena kegiatan kesehatan menyatu dengan rutinitas mereka. 

KEUNGGULAN/KEBAHARUAN

Inovasi ini memiliki sejumlah keunggulan dan unsur kebaruan yang menjadikannya berbeda dari kegiatan promotif-preventif yang bersifat konvensional, diantaranya:

1.  Free

-   Tidak mengeluarkan biaya untuk pemeriksaan dan edukasi

-   Mendapatkan kartu kontrol POJOK ESTEH PTM dan Stiker Edukasi yang memudahkan masyarakat mengingat kembali bagaimana hasil pemeriksaan kesehatannya.

2.  Efisien

-   Tidak perlu mengantri lama dan tidak memakan waktu 1x pemeriksaan dan edukasi sehat ± 10 menit

-   Masyarakat mendapatkan pemeriksaan dan edukasi kesehatan melalui praktek langsung tentang pola hidup CERDIK penyakit menular.

-   Akses mudah bisa ke POJOK ESTEH PTM di Puskesmas setiap hari kamis dan sabtu atau bisa saat kegiatan luar gedung seperti : posbindu, posyandu lansia, Germas, UKS, dan Screening PTM di sekolah dan institusi.

3.  Efektif

Bagi yang memiliki motivasi dan komitmen yang kuat akan pentingnya menerapkan pola hidup CERDIK, POJOK ESTEH PTM bisa menjadi sarana mendapatkan edukasi yang optimal.

TAHAPAN/BISNIS PROSES INOVASI

1.   Tahap Persediaan dan Perencanaan

Mengumpulkan data kasus Penyakit Tidak Menular, memetakan kebutuhan masyarakat, serta merancang konsep inovasi yang integratif dan berbasis komunitas. 

2. Tahap Penguatan Sumber Daya

Melakukan pelatihan kader dan petugas kesehatan, serta menyiapkan alat pemeriksaan sederhana dan media edukatif yang mudah dipahami masyarakat.

3. Tahap Pelaksanaan Kegiatan

Melaksanakan pemeriksaan kesehatan berkala dan edukasi interaktif di titik-titik strategis seperti posyandu, pasar, sekolah, dan kantor desa.

4. Tahap Pencatatan dan Pemantauan

Mencatat hasil pemeriksaan dan kategori risiko secara digital sederhana, serta melakukan pemantauan lanjutan terhadap individu dengan risiko Penyakit Tidak Menular.

5. Tahap Evaluasi dan Pengembangan

Mengevaluasi hasil kegiatan, menyesuaikan pendekatan jika diperlukan, dan memperluas cakupan wilayah serta integrasi dengan program kesehatan lainnya.