CAP KUDA MAS (Cari Pasien, Kumpul Dahak, Dapat Emas)

PERMASALAHAN 

Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit yang masih menyebabkan masalah kesehatan di dunia. Pada tahun 2021, diperkirakan terdapat 10,6 juta orang di dunia menderita TB Adanya pandemik COVID-19 memberikan dampak besar pada penemuan kasus TB di dunia. Pada tahun 2020, terdapat penurunan penemuan kasus baru TB pada berbagai negara di dunia. Indonesia merupakan salah satu negara yang mengalami penurunan penemuan kasus baru TB karena pandemi COVID-19. Pada tahun 2019 ditemukan sekitar 500.000 kasus TB, namun pada tahun 2020 turun menjadi 400.000 kasus. Salah satu penyebabnya adalah turunnya angka pemeriksaan suspek TB karena lebih fokus pada penanganan COVID-19. Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kabupaten Bulungan, pada tahun 2020 jumlah suspek TB yang dilakukan pemeriksaan dahak adalah 1.526 suspek, mengalami penurunan sebesar 41,8 persen dibandingkan tahun 2019. Lalu pada tahun 2020, ditemukan 205 kasus TB di Kabupaten Bulungan. Jumlah penemuan kasus baru tahun 2020 mengalami penurunan dari tahun 2019, yaitu sebanyak 233 kasus. Penemuan kasus TB sangat penting dilakukan agar pasien TB segera mendapatkan pengobatan yang adekuat, mencegah penyebaran kasus TB, serta mencegah terjadinya komplikasi yang berakibat pada kematian. Sepanjang tahun 2018-2020, cakupan pemeriksaan suspek TB di wilayah kerja Puskesmas Long Beluah belum mencapai target, masih di bawah 50 persen. Pandemi COVID-19 berdampak besar pada pemeriksaan suspek TB dan penemuan kasus TB di wilayah kerja Puskesmas Long Beluah. Petugas kesehatan lebih berfokus pada penemuan dan penanganan kasus COVID-19 dan mengesampingkan penyakit lainnya termasuk TB dan menyebabkan makin turunnya cakupan pemeriksaan suspek TB pada tahun 2020. Pada tahun 2020, cakupan pemeriksaan suspek TB adalah sebanyak 40 orang (25,3%) dan yang dilakukan pemeriksaan Tes Cepat Molekular (TCM) adalah sebanyak 4 orang. Lalu pada tahun 2020 terjadi penurunan Temuan kasus baru yang cukup signifikan dibandingkan pada tahun 2019. Pada tahun 2020 hanya ditemukan 4 kasus baru. Oleh karena itu, untuk meningkatkan cakupan penemuan kasus suspek TB dan penemuan kasus baru TB, pada tahun 2021 dibuat inovasi “CAP KUDA MAS” (Cari Pasien, Kumpul Dahak, Dapat Emas). 



ISU STRATEGIS

Isu strategis terkait tuberkulosis (TBC) di Kabupaten Bulungan yang dapat dijadikan fokus dalam perencanaan dan intervensi kebijakan:

1.Akses Layanan Kesehatan Terbatas di Wilayah Terpencil

Puskesmas Long Beluah berada di wilayah Kecamatan Tanjung Palas Barat yang merupakan wilayah pedesaan yang sulit dijangkau. Keterbatasan fasilitas kesehatan seperti pemeriksaan penunjang seperti mikroskopis/TCM (Test Cepat Molekuler) dan tenaga medis yang terlatih terbatas hanya 1 orang dari 23 staf di wilayah ini menyulitkan deteksi dini dan pengobatan TBC secara merata.

2.Rendahnya Penemuan Kasus dan Pelacakan Kontak

Masih banyak kasus TBC yang tidak terdeteksi atau tidak dilaporkan. Hal ini diperparah oleh kurangnya pelacakan kontak erat, terutama di komunitas yang mobilitasnya tinggi atau memiliki stigma terhadap penyakit ini.

3.Keterbatasan Laboratorium dan Teknologi Diagnostik

Pemeriksaan TBC yang akurat seperti Tes Cepat Molekuler (TCM) dan PCR belum merata di seluruh fasilitas kesehatan. Ini menghambat diagnosis cepat, terutama untuk TBC resisten obat (RO).

4.Tingkat Keberhasilan Pengobatan yang Belum Optimal

Keberhasilan pengobatan TBC RO di Indonesia masih rendah, hanya sekitar 58%, jauh dari target 80%. Hal ini bisa mencerminkan tantangan serupa di Kalimantan Utara, terutama dalam hal kepatuhan pasien dan ketersediaan obat.

5.Keterlibatan Pemerintah Daerah dan Lintas Sektor MasihTerbatas

Meski pemerintah pusat telah mendorong pembentukan Tim Percepatan Penanggulangan TBC (TP2TB), implementasinya di daerah seperti Kabupaten Bulungan masih perlu diperkuat melalui alokasi anggaran, regulasi daerah, dan kolaborasi lintas sektor.

6.Kurangnya Edukasi dan Kesadaran Masyarakat

Stigma terhadap penderita TBC masih tinggi, dilihat dari survey terhadap 100 pengunjung puskesmas Long Beluah sekitar 87% tidak tahu atau tidak mengerti tentang penyakit TB (Tuberkulosis) yang menyebabkan banyak orang enggan memeriksakan diri atau mengikuti pengobatan hingga tuntas. Edukasi publik yang berkelanjutan sangat dibutuhkan.


METODE PEMBAHARUAN


Kondisi Sebelum Inovasi


Selama masa pandemi COVID-19, penemuan suspek TB semakin terabaikan karena petugas kesehatan berfokus pada COVID-19. Yang mengakibatkan kurang tercapainya target dari suspek TB (Tuberkulosis) dan pencapaian suspeknya (25,3%) menjadi menurun. Dan surveilan hanya dilakukan petugas kesehatan hanya 1 orang.


Kondisi Setelah Inovasi

Setelah dilaksanakan Inovasi CAP KUDA MAS dapat meningkatkan motivasi petugas kesehatan bertambah serta kader untuk mencari suspek TB dari 1 orang petugas menjadi 6 petugas tiap desa dan kader setiap desa juga ikut dalam mencari Suspek TB. Sehingga Petugas kesehatan serta kader untuk mencari suspek TB dapat meningkatkan cakupan penemuan suspek TB di wilayah kerja Puskesmas Long Beluah. Dan melibatkan lintas Sektor (Tokoh masyarakat, Desa, Kecamatan dan Perusahaan CV. Raisaka Maxindo Jaya) yang ada di Kecamatan Tanjung Palas Barat.

Dengan adanya peningkatan cakupan penemuan suspek TB, kasus baru TB yang ditemukan juga semakin bertambah, agar pasien TB segera diobati dan tidak menularkan penyakitnya ke orang lain. Pasien TB yang ditemukan, diobati sampai sembuh dapat mendukung eliminasi TB 2030.

KEUNGGULAN/KEBAHARUAN

Karena cakupan penemuan suspek TB yang semakin menurun dari tahun 2018 hingga 2020, ditambah lagi efek pandemi COVID-19, maka pada tahun 2021 inovasi “CAP KUDA MAS” (Cari Pasien, Kumpul Dahak, Dapat Emas) dilaksanakan. Pada kegiatan CAP KUDA MAS, semua petugas kesehatan serta kader dapat ikut serta mencari pasien suspek TB untuk dilakukan pemeriksaan dahak. Jika mereka dapat mencapai target yang diberikan, maka reward yang diberikan adalah emas murni. Selain itu kami juga memberikan undian doorprize berupa emas murni untuk pasien suspek TB yang beruntung karena banyak suspek TB yang enggan mengumpulkan dahaknya. Dana yang digunakan untuk mendukung inovasi ini adalah dana Bantuan Operasional Kesehatan (BOK), dana Global Fund, serta bantuan dari CV. Raisaka Maxindo Jaya. Sejak dilaksanakannya inovasi ini, antusiasme petugas kesehatan dan kader untuk mencari suspek TB sangat meningkat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Mereka mencari suspek TB di dalam gedung saat pelayanan di Poli atau UGD serta mencari di luar gedung, ketika Posyandu Lansia, Posbindu, atau tetangga di sekitar rumah yang mengalami gejala TB. Selain itu para petugas kesehatan juga melakukan investigasi kontak pada pasien TB dan memeriksakan dahak kontak yang bergejala batuk. Di akhir tahun, dilakukan rekapitulasi pengumpulan dahak suspek TB. Semua petugas yang berhasil mencapai target mendapatkan emas murni dan petugas yang paling banyak mengumpulkan dahak mendapatkan hadiah utama. Selain itu juga diadakan juga undian doorprize bagi pasien yang mau diambil dahaknya. Lalu, inovasi lain yang dibuat pada kegiatan CAP KUDA MAS ini adalah: 

1. Buku SimpeDa (Simpenan Dahak) 

Buku SimpeDa (Simpenan Dahak) berbentuk seperti buku tabungan bank, namun buku ini digunakan untuk “menabung dahak” yang dapat ditukarkan dengan emas.Di buku SimpeDa petugas mencatat nama pasien suspek TB yang diambil dahaknya. Buku SimpeDa memudahkan petugas untuk merekapitulasi data pasien TB, karena data pasien ini harus diinput di SITB. Melalui buku ini petugas juga mengetahui sudah berapa banyak suspek TB yang mereka cari, apakah sudah memenuhi target atau belum. Selain itu di bagian belakang buku ini terdapat lembar edukasi tentang penyakit TB. Lembar edukasi ini memudahkan para petugas untuk memberikan edukasi ke masyarakat.

 

2. KadITu (Kader Basmi Tuberkulosis) 

Selain petugas kesehatan, peran kader juga sangat penting dalam penemuan kasus TB. Kader lebih dekat dengan masyarakat sehingga jika suspek TB, kader bisa lebih cepat melaporkan ke petugas kesehatan. Oleh karena itu, dilaksanakan pembentukan dan pelatihan KadITu (Kader Basmi Tuberkulosis). Pada kegiatan ini, dijelaskan lebih rinci mengenai penyakit TB, penyebabnya, cara penyebarannya, gejala, pengobatan, serta cara mencegahnya. Kemudian para kader juga dijelaskan bagaimana cara pengambilan dahak serta peran kader dalam pemberantasan penyakit TB. Para kader sangat antusias saat diberikan materi tersebut dan aktif bertanya karena penyakit TB adalah salah satu penyakit yang jarang dibahas di masyarakat. Lalu kader yang berhasil mencapai target mencari suspek TB juga mendapatkan reward berupa emas murni.

3. Go-POT

Layanan lain yang dibentuk dari kegiatan CAP KUDA MAS adalah Go POT. Jadi jika ada pasien yang tidak dapat ke Puskesmas langsung karena terkendala transportasi, petugas siap untuk mengantarkan pot dan mengambil dahak pasien. Berdasarkan Surat Edaran dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia tentang Perubahan Alur Diagnosis dan Pengobatan Tuberkulosis di Indonesia, Tes Cepat Molekuler (TCM) adalah alat diagnosis utama yang digunakan untuk penegakan diagnosis TB. Jadi semua dahak yang sudah diambil harus diperiksa TCM. Namun pada tahun 2020, hanya ada 4 sampel dahak yang dilakukan pemeriksaan TCM. Oleh karena itu, dahak yang sudah dikemas secara rutin dikirimkan ke RSUD dr. H. Soemarno Sosroatmodjo Tanjung Selor atau Puskesmas Tanjung Palas oleh petugas Go-POT untuk dilakukan pemeriksaan TCM.


TAHAPAN/BISNIS PROSES INOVASI

Implementasi CAP KUDA MAS dirancang melalui tahapan :

1. Penyusunan Regulasi Dan SOP

Sebelum inovasi CAP KUDA MAS dilaksanakan, perlu adanya regulasi untuk mendukung pelaksanaan inovasi, yaitu berupa Surat Keputusan (SK) dari Kepala Daerah tentang Penetapan Inovasi Daerah Pemerintah Kabupaten Bulungan Tahun 2022, SK Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bulungan tentang Inovasi Pelayanan Publik Pada Wilayah Kerja Dinas Kesehatan Kabupaten Bulungan Tahun 2023, dan SK Kepala Puskesmas Long Beluah tentang Pembentukan Kegiatan Inovasi Cap Kuda Mas (Cari Pasien, Kumpul Dahak, Dapat Emas). Lalu, dilaksanakan juga pembentukan KADITU (Kader Basmi Tuberkulosis) yang dikukuhkan dengan SK Kepala Desa Long Beluah Nomor : 140/04/LB-PEM/III/2023. 

2. Kolaborasi Multi Pihak

Untuk pembiayaan, inovasi CAP KUDA MAS berkolaborasi dari Perusahaan CV. Raisaka Maxindo Jaya. 

3. Penyediaan Sarana Prasarana

Sarana prasarana yang digunakan dalam melaksanakan inovasi ini adalah pot dahak, cool box, dan buku Simpeda (Simpenan Dahak). Lalu dilakukan publikasi melalui poster di media sosial untuk menarik minat tenaga kesehatan dan pasien suspek TB.

4. Implemantasi

Inovasi CAP KUDA MAS diawali dengan pembinaan dan pembentukan Kaditu (Kader Basmi Tuberkulosis). Kemudian, dilakukan publikasi tentang target pengumpulan 9 dahak melalui media sosial dan rapat. Selanjutnya, petugas kesehatan dan kader mulai mencari suspek TB, yaitu pasien dengan gejala-gejala seperti batuk lebih dari 2 minggu, keringat malam, demam, penurunan berat badan, atau batuk berdarah. Mereka mencari suspek TB di Puskesmas dan luar gedung, seperti di Posyandu, Posbindu, sekolah, serta di lingkungan sekitar rumah. Mereka memberikan pot dahak kepada suspek TB, lalu dahak akan dikumpulkan dan dikirim oleh petugas Go-POT ke laboratorium di RSUD Tanjung Selor/Puskesmas Tanjung Palas untuk dilakukan pemeriksaan Tes Cepat Molekular (TCM). Petugas mencatat semua pasien suspek TB yang mereka temukan di buku Simpeda (Simpenan Dahak) dan akan diakumulasikan di akhir tahun. Petugas kesehatan/kader yang berhasil memenuhi target penemuan suspek TB diberikan hadiah emas. Terdapat doorprize emas bagi pasien suspek TB yang mengumpulkan dahak.