PERMASALAHAN
Penyakit diabetes mellitus dan hipertensi merupakan satu dari sekian banyak penyakit yang sangat membahayakan bagi kesehatan tubuh, bahkan merupakan penyakit yang memiliki angka kematian yang tinggi. Berdasarkan laporan World Health Organization (WHO) tahun 2016, dari 56,9 juta kematian di dunia, 15,2 juta di antaranya disebabkan oleh hipertensi. Begitu juga WHO memprediksi adanya peningkatan jumlah pasien DM tipe 2 yang cukup besar pada tahun-tahun mendatang. WHO memprediksi kenaikan jumlah pasien diabetes mellitus tipe 2 di Indonesia dari 8,4 juta pada tahun 2000 menjadi sekitar 21,3 juta pada tahun 2030. Prediksi dari International Diabetes Federation (IDF) juga menjelaskan bahwa pada tahun 2013- 2017 terdapat kenaikan jumlah pasien diabetes dari 10,3 juta menjadi 16,7 juta pada tahun 2045. Dan Indonesia menempati peringkat keenam negara dengan penderita diabetes tertinggi di dunia, yaitu 10,3 juta pasien pada tahun 2017. Diabetes dan hipertensi juga sering disebut sebagai the silent disease karena seringkali tanpa keluhan, sehingga penderita tidak tahu kalau dia menderita diabetes/hipertensi atau kedua penyakit tersebut. Banyaknya kasus penyakit hipertensi dan diabetes disebabkan oleh perubahan gaya hidup yang tidak sehat. Kebiasaan penduduk mengonsumsi makanan berlemak, tinggi garam, tinggi gula, merokok, mengonsumsi alkohol, bertambahnya usia, dan malas berolahraga memicu terjadinya penyakit diabetes dan hipertensi. Pengetahuan masyarakat tentang penyakit diabetes dan hipertensi serta cara mencegahnya juga masih sangat minim. Berdasarkan hasil data dari Kemenkes pada tahun 2018, di provinsi Kalimantan Utara prevalensi kasus diabetes adalah sebesar 1,6 % (1,3-2,0) dan hipertensi sebesar 10,46 % (9,25 -11,80). Provinsi Kalimantan Utara masuk ke dalam 5 besar provinsi dengan prevalensi tertinggi penyakit hipertensi, jantung, maupun stroke.
ISU STRATEGIS
Diabetes dan Hipertensi merupakan dua penyakit kronis yang kian menjadi perhatian di Indonesia, terutama di Bulungan, Kalimantan Utara. Dikarenakan prevalensi yang tinggi dan komplikasi serius yang dapat ditimbulkan, mengenali risikonya menjadi isu strategis yang penting untuk ditangani. Berikut beberapa poin penting terkait isu strategis ini:
1.Prevalensi yang Tinggi
Data Riskesdas (Riset Kesehatan Dasar) 2021 menunjukkan prevalensi diabetes di Indonesia mencapai 2,0 persen, dengan kenaikan diprediksi mencapai 3,0 persen pada tahun 2030. Di Bulungan, berdasarkan data Puskesmas Long Beluah tahun 2021, prevalensi diabetes mencapai 51,37 persen. Hipertensi juga menunjukkan tren peningkatan, dengan prevalensi nasional mencapai 27,1 persen dan 33,5 persen di Bulungan, sedangkan di Puskesmas Long Beluah sendiri 34,54 persen pada tahun 2021.
2.Faktor Risiko yang Beragam
Faktor risiko diabetes dan hipertensi saling terkait, seperti gaya hidup tidak sehat (pola makan tidak seimbang, kurang aktivitas fisik, merokok), obesitas, riwayat keluarga, dan usia. Faktor lingkungan seperti akses air bersih, sanitasi, dan edukasi kesehatan juga berperan.
3.Dampak yang Serius
Diabetes dan hipertensi dapat menyebabkan komplikasi serius seperti penyakit jantung, stroke, gagal ginjal, dan kebutaan. Komplikasi ini meningkatkan beban biaya kesehatan dan menurunkan kualitas hidup penderita dan keluarga.
4.Upaya Penanganan yang Terbatas
Sistem layanan kesehatan belum sepenuhnya siap menghadapi tingginya prevalensi penyakit ini. Keterbatasan sumber daya, tenaga kesehatan, dan edukasi menjadi tantangan dalam pengendaliannya. Kesadaran masyarakat terhadap risiko dan pencegahan penyakit ini masih rendah.
5.Pentingnya Pendekatan Strategis
Diperlukan upaya komprehensif dan terintegrasi dari berbagai pihak, seperti pemerintah, tenaga kesehatan, komunitas, dan individu. Upaya promotif dan preventif harus menjadi prioritas, seperti edukasi kesehatan, promosi gaya hidup sehat, dan skrining risiko penyakit. Sistem layanan kesehatan perlu diperkuat untuk meningkatkan deteksi dini, diagnosis, dan pengobatan yang efektif.
METODE PEMBAHARUAN
Kondisi Sebelum Inovasi
Sebelum ada inovasi ini kunjungan pasien untuk datang ke Posbindu (Pos Binaan Terpadu) masih sedikit dan hanya 1 pelayanan yaitu skrining, tanpa ada kegiatan tambahan yang membuat masyarakat mau datang untuk melakukan skrining kesehatan. Minat masyarakat untuk memeriksakan kesehatan mereka masih rendah. Hal tersebut disebabkan karena kurangnya pengetahuan masyarakat tentang pentingnya melakukan deteksi dini penyakit tidak menular. Kegiatan Posbindu yang monoton juga menyebabkan masyarakat enggan untuk berkunjung ke Posbindu.
Kondisi Setelah Inovasi
Setelah dilaksanakan inovasi “KOPI DI ATI” (Kenali Risiko Penyakit Diabetes dan Hipertensi) mulai dilaksanakan pada tahun 2022 hingga sekarang. Dampak/keberhasilan inovasi diukur dengan adanya peningkatan jumlah kunjungan peserta ke Posbindu tempat skrining menjadi 5, peningkatan cakupan skrining Penyakit Tidak Menular (PTM), dan peningkatan persentase pelayanan penderita hipertensi dan diabetes sesuai standar. dan kerjasama antara lintas sektor (Tokoh masyarakat, Desa dan kecamata) dalam mendukung pelayanan skrining yang ada di kecamatan tanjung palas barat.
KEUNGGULAN/KEBAHARUAN
Inovasi TAKE Bulungan Hijau menghadirkan sebuah terobosan dalam pengelolaan keuangan desa dengan mengintegrasikan insentif fiskal dan indikator lingkungan hidup secara sistematis. Pembaharuan utama dari program ini terletak pada cara pandang dan tata kelola anggaran yang berpihak pada pembangunan berkelanjutan dan desa sebagai pelaku utama konservasi.
Secara umum, metode pembaharuan dalam TAKE Bulungan Hijau dapat dijelaskan melalui lima pilar berikut:
TAHAPAN/BISNIS PROSES INOVASI
Dalam menjalankan inovasi KOPI DI ATI, petugas bekerja sama dengan profesi lainnya. Dan untuk meningkatkan penemuan kasus diabetes dan hipertensi maka dilakukanlah beberapa inovasi yaitu :
1. Dedi Di Ati (Deteksi Dini Diabetes dan Hipertensi)
Dedi Di Ati adalah inovasi untuk meningkatkan deteksi dini diabetes dan hipertensi. Selama ini deteksi dini/skrining PTM hanya dilakukan oleh pemegang program PTM saja. Hal ini menyebabkan cakupan penemuan kasus diabetes dan hipertensi masih rendah. Oleh karena itu melalui inovasi Dedi Di Ati, petugas kesehatan khusus ditugaskan untuk melakukan skrining PTM di Poli Umum sehingga semua pasien yang berobat ke Poli Umum diskrining. Ibu hamil di Poli KIA juga dilakukan skrining untuk deteksi dini diabetes dan hipertensi. Lalu untuk pasien peserta JKN yang tidak berobat ke Puskesmas juga dapat melakukan skrining kesehatan online yang disediakan BPJS. Selain di dalam gedung, Dedi Di Ati juga dilaksanakan di luar gedung, yaitu di Posbindu PTM. Di Posbindu PTM kader berperan penting untuk mengajak masyarakat datang untuk diskrining serta membantu petugas kesehatan melakukan skrining. Lalu skrining PTM juga dilaksanakan di tempat keramaian seperti saat pemeriksaan dokter spesialis dan juga di pengajian-pengajian.
2. Mas Den Di Ati (DeMO Masak dan Penyuluhan Diabetes Dan Hipertensi) Inovasi lain pada KOPI DI ATI adalah Mas Den Di Ati ( Demo Masak dan Penyuluhan Diabetes dan Hipertensi), di mana inovasi ini menggabungkan dua kegiatan menjadi satu. Inovasi Mas Den Di Ati bertujuan untuk menarik minat masyarakat untuk datang ke Posbindu. Inovasi ini mengajak peserta yang ada di Posbindu untuk berperan aktif dalam menjaga kesehatannya melalui makanan yang dikonsumsi setiap hari. Demo masak dilakukan sambil memberikan edukasi/penyuluhan tentang pengolahan makanan yang sesuai dengan pasien yang mengidap diabetes dan hipertensi. Makanan yang diolah dalam demo masak adalah makanan lokal yang mudah ditemukan seperti ikan baung yang dimasak pepes. Selain itu menu lain yang pernah dimasak adalah nasi tim ikan tembaring. Nasi yang digunakan adalah nasi keladi karena kandungan gulanya yang lebih rendah dan merupakan produk lokal dari Desa Long Pari. Lalu dijelaskan juga mengenai penggunaan garam dan gula dalam masakan sesuai kebutuhan tubuh. Sebagai contoh, normalnya penggunaan garam per hari henda
3. Senam BuTeSi ( Senam Bugar Diabetes dan Hipertensi)
Selain demo masak dan penyuluhan, kegiatan lain yang juga dilaksanakan untuk menarik minat masyarakat adalah senam BuTeSi (Senam Bugar Diabetes dan Hipertensi). Pada Senam BuTeSi peserta diajarkan gerakan gerakan yang mudah dilakukan di rumah untuk melancarkan peredaran darah dan meningkatkan aktivitas fisik agar pasien diabetes dan hipertensi lebih aktif menjaga kebugaran mereka. Diharapkan dengan adanya Senam BuTeSi masyarakat dapat rutin melakukan aktivitas fisik. Setelah inovasi KOPI DI ATI dilaksanakan, para peserta secara berkala rutin mendapatkan informasi setiap minimal 2 bulan sekali terkait demo masak dan penyuluhan aktifitas fisik (senam). Dengan adanya inovasi KOPI DI ATI, minat masyarakat untuk datang ke Posbindu PTM meningkat. Masyarakat yang malas pergi ke Posbindu menjadi tertarik karena ada kegiatan demo masak dan senam diabetes dan hipertensi. Berdasarkan hasil data pencatatan dan pelaporan kader Posbindu tahun 2023, didapatkan jumlah kunjungan peserta ke Posbindu meningkat mencapai 30-40 pasien.