BERSINAR DARI DESA (Bersih Desanya, Berputar Ekonominya Dari Desa)

DASAR HUKUM

1. UU No. 32 Tahun 2009 tentang PPLH Pasal 59: Setiap orang/badan usaha yang menghasilkan limbah wajib melakukan pengelolaan limbah yang dihasilkannya. Pengelolaan limbah B3 wajib izin Menteri, Gubernur, atau Bupati/Walikota sesuai kewenangan.

2. UU No. 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah Pasal 9, 11-16, 19-22. Ini jadi acuan umum pengelolaan sampah termasuk sampah spesifik.

3. PP No. 22 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan PPLH Pasal 274 ayat 1-2: Setiap penghasil limbah wajib kelola limbah B3 dan non-B3. Bab VII khusus atur Limbah B3 & non-B3. Izin pengelolaan limbah B3 sekarang jadi “persetujuan teknis” yang diintegrasikan ke persetujuan lingkungan.

4. Permen LHK No. 6 Tahun 2021 tentang Tata Cara & Persyaratan Pengelolaan Limbah B3. Jangkos biasanya diklasifikasi non-B3, tapi kalau terkontaminasi minyak/chemical bisa masuk B3. Jadi wajib ikut tata cara: pengurangan, pewadahan, penyimpanan, pengangkutan, pengolahan, pemanfaatan.

5. Kepmen LH No. 29 Tahun 2003: Pedoman syarat & tata cara perizinan pemanfaatan air limbah industri minyak sawit pada tanah perkebunan. Jangkos sering diolah jadi kompos/mulsa + land application, aturannya pakai ini.

6.Perbup Bulungan No. 37 Tahun 2021 Tentang Kebijakan & Strategi Daerah Pengelolaan Sampah Rumah Tangga & Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga. Menjelaskan target pengurangan & penanganan sampah 2018-2025, termasuk sampah spesifik/industri. Jangkos masuk “sampah sejenis” yang strateginya diatur di dokumen Jakstrada ini.

7. Perbup Bulungan No. 10 Tahun 2018 Tentang Pembentukan UPTD Pengelolaan Sampah pada DLH Kabupaten Bulungan. UPTD DLH Bulungan yang ngurus izin, pengawasan, dan SOP pengolahan sampah termasuk jangkos.

8 Perbup Bulungan No. 92 Tahun 2022 Tentang Penyesuaian Tarif Retribusi Pengelolaan Sampah/Kebersihan. Jika setorkan jangkos ke TPA/TPST milik pemkab, tarifnya menggunakan regulasi ini.

9.Perbup Bulungan No. 38 Tahun 2023 Tentang Rencana Aksi Daerah Perkebunan Kelapa Sawit Berkelanjutan RAD KSB 2023-2024

PERMASALAHAN

Kabupaten Bulungan adalah kabupaten penghasil sawit di Kaltara. Jangkos = Tandan Kosong Kelapa Sawit, 20-25% dari TBS yang diolah. Masalahnya mirip daerah sawit lain, tapi ada ciri khas Bulungan:

1. Volume besar + lahan penumpukan terbatas

1 PKS kapasitas 45 ton TBS/jam bisa hasilkan ±180 ton jangkos/hari. Kalau nggak langsung diolah, numpuk jadi “gunung jangkos” di belakang pabrik. Ini rawan kebakaran, jadi sarang hama kumbang tanduk Oryctes rhinoceros yang ngerusak sawit warga, dan ngurangi kerapian kebun.

2. Pengelolaan belum optimal di pekebun kecil

YKAN catat Bulungan ada kesenjangan produksi pekebun kecil 61%. Faktornya: bibit jelek, tanah kurang subur, praktik agronomi buruk. Jangkos yang seharusnya jadi mulsa/pupuk organik, banyak pekebun kecil nggak tau cara pakai/transportnya mahal. Akibatnya jangkos dibuang ke lahan kosong/sungai.

3. Potensi pencemaran lingkungan kalau dibakar/dibuang sembarangan

  • Pencemaran udara: Dulu jangkos banyak dibakar di incinerator pabrik. Kalau nggak ada izin + teknologi bagus, asapnya cemari udara. UU 32/2009 Pasal 60 melarang pencemaran lingkungan.
  • Pencemaran air/tanah: Jangkos mengandung minyak sisa + kalium tinggi. Kalau ditumpuk kena hujan, lindi/lixiviatnya masuk tanah & sungai. Kasus di daerah lain: sungai jadi hitam, bau, ikan mati. DLH Bulungan sendiri bilang PR besarnya masih “kesadaran masyarakat pilah sampah”. Melanggar UU: Buang limbah tanpa IPAL/izin = pidana UU 32/2009 Pasal 104: penjara 3 tahun + denda 3M. Buang limbah cair tanpa izin = UU 18/2008 Pasal 39: 4 tahun + 100 juta.

4. Pemanfaatan belum maksimal

Padahal jangkos punya potensi yaitu a) Mulsa/kompos: Naikin kelembaban tanah, panen naik 26%. Dosis 35 ton/Ha bisa pupuk 1.500 Ha/tahun; b) Energi: Nilai kalori 1943 kkal/kg, bisa buat boiler/PLTU. Potensi biogas dari limbah sawit juga besar; dan c) Kalium sulfat: Abu jangkos kaya K, bahan baku pupuk.

ISU STRATEGIS

1.Isu Lingkungan & Daya Dukung

“Pencemaran & degradasi lingkungan akibat penumpukan jangkos” 

a. Volume > Daya tampung: Produksi TBS sawit Bulungan tinggi, jangkos 20-25% nya. Lahan timbun PKS terbatas → meluber ke sungai/lahan warga.

b. Risiko pencemaran: Lindi jangkos = kalium + asam organik tinggi. Masuk DAS Kayan = air keruh, bau, ikan mati. Pembakaran tanpa IPAL = polusi udara, melanggar UU 32/2009 Pasal 60.

c. Hama & kebakaran: Tumpukan jangkos = sarang kumbang tanduk Oryctes perusak sawit pekebun kecil. Rawan kebakaran lahan gambut saat kemarau.

Kenapa strategis: Bulungan visi “ramah lingkungan & berdaulat pangan”. Pencemaran dari jangkos bikin gagal capai visi + target Adipura + target ISPO/RSPO.

2. Isu Ekonomi Sirkular & Nilai Tambah 

“Hilangnya potensi ekonomi sirkular dari jangkos” 

a. Pupuk gratis terbuang: Jangkos kaya K2O. 35 ton/Ha/tahun bisa hemat pupuk kimia Rp400rb/Ha. Tapi banyak dibuang karena biaya angkut mahal.

b. Energi terbarukan nggak kepakai: Nilai kalori 1943 kkal/kg → bisa jadi RDF, biomassa boiler, biogas. Padahal Bulungan dorong EBT lewat RAD KSB.

c. Pekebun kecil makin tertinggal: YKAN catat kesenjangan produksi pekebun kecil Bulungan 61%. Padahal mulsa jangkos bisa naikkan panen 26%. Tanpa akses jangkos, mereka makin nggak kompetitif.

METODE PEMBAHARUAN

Kondisi Sebelum Inovasi

Sebelumnnya jangkos sawit tidak di kelola dan menjadi tumbpukan jajang kosong yang kurang di manaatkan.

Kondisi Setelah Inovasi

Setelah adanya inovasi ini jangkos di kelola menjadi pupuk organic yang di kelola oleh TPS3R Desa Bumi Rahayu dan di manfaatkan oleh masyarakat desa.

KEUNGGULAN/KEBAHARUAN

Pengelolaan jangkos mengurangiTumpukan jangkos = sarang kumbang tanduk. Kalau langsung cacah + sebar jadi mulsa, siklus hama putus. Risiko kebakaran lahan gambut juga turun.

Kurangi konflik warga: Nggak ada bau, lalat, hama dari timbunan. Hubungan PKS-warga sekitar harmonis.

Buka lapangan kerja: Unit kompos, RDF, angkut jangkos = butuh tenaga. Bisa serap warga sekitar kebun/PKS.

Edukasi pekebun: Program mulsa jangkos = momentum penyuluh DLH/Dinas Pertanian ajari pekebun cara agronomi baik. Sesuai program YKAN “pekebun kecil sadar sawit berkelanjutan”.

TAHAPAN INOVASI/BISNIS PROSES INOVASI

Tahapan Inovasi Pengelolaan Jangkos di Kabupaten Bulungan 

Roadmap 5 Tahap dari “Tumpukan” → “Zero Waste & Bernilai Ekonomi”

Biar nggak jalan di tempat, inovasinya harus bertahap. Ini urutan yang nyambung sama Jakstrada Perbup 37/2021 + RAD KSB Bulungan 2023-2024:

Tahap 1: Pemetaan & Data - "Kenali Masalah Dulu" 0-3 bulan

Tujuan: Biar nggak ngawang, semua stakeholder punya data sama.

1. Inventarisasi timbulan: DLH Bulungan + Disbun + UPTD Sampah wajibkan semua PKS lapor: kapasitas TBS/jam, % jangkos, ton/hari, lokasi timbun sekarang.

2. Neraca jangkos: Hitung berapa % yang: 1) dibakar, 2) ditumpuk, 3) dijadiin mulsa, 4) kebuang ke sungai. Ini data dasar Jakstrada update.

3. Pemetaan titik rawan: Tandai lokasi timbunan liar, sungai yang keruh, kebun warga yang kena hama kumbang dari jangkos.

4. Bentuk “Forum Jangkos Bulungan”: Isinya DLH, Disbun, KPH, PKS, Gapoktan, YKAN. Rapat 1 bulan sekali.

Output: Peta + database “Sumber, Timbulan & Nasib Jangkos Bulungan 2026”

Tahap 2: Piloting Teknologi Tepat Guna - "Uji Coba Kecil" 3-9 bulan

Tujuan: Cari metode yang cocok kondisi Bulungan: biaya rendah, SDM lokal bisa.

Pilih 2-3 model percontohan di lokasi beda:

1. Model Pekebun Kecil: Mesin pencacah mini + pelatihan kompos/mulsa. Jangkos dicacah, ditebar langsung di barisan sawit. Tanpa fermentasi lama. Kerjasama YKAN + Penyuluh Pertanian.

2. Model PKS Skala Menengah: Bunch press + windrow composting. Jangkos diperas dulu ambil minyak sisa, lalu dikompos 40 hari jadi pupuk organik. Hasilnya dijual ke plasma.

3. Model PKS Besar: RDF/biomas boiler. Jangkos dikeringkan → pelet → bakar di boiler sendiri. Hemat solar 20%.

Output: 3 lokasi percontohan + data biaya, rendemen, kendala lapangan

Tahap 3: Penguatan Kelembagaan & Regulasi - "Kunci Payung Hukum" 6-12 bulan

Tujuan: Biar inovasi nggak mati kalau ganti kepala dinas.

1. Revisi Turunan Jakstrada: Masukkan target spesifik jangkos ke Perbup 37/2021: “2028 = 80% jangkos Bulungan terolah jadi kompos/RDF/mulsa”.

2. SOP DLH Bulungan: UPTD Sampah bikin SOP izin + pengawasan jangkos. Alur: lapor timbulan → pilih metode → pantau lapangan tiap 3 bulan.

3. Insentif & sanksi: PKS yang 100% olah jangkos dapat kemudahan izin lingkungan. Yang buang liar = teguran → denda sesuai UU 32/2009.

4. Integrasi RAD KSB: Masukkan indikator “Volume jangkos termanfaatkan” ke Program 14 RAD KSB 2023-2024.

Output: Perbup/Perwali turunan + SOP pengawasan jangkos disahkan

Tahap 4: Skala & Hilirisasi - "Naik Kelas Jadi Industri" 1-3 tahun

Tujuan: Dari percontohan jadi bisnis yang muter sendiri.

1. Bangun TPS 3R Jangkos Klaster: 1 TPS untuk 5-10 kebun plasma. Punya mesin cacah + tempat kompos. Dikelola Gapoktan, disubsidi Pemkab.

2. Hilirisasi produk: Bangun pabrik kecil pelet jangkos/RDF di Tanjung Selor. Abu jangkos → kalium sulfat. Kerjasama PKS + UMKM + investor.

3. Jaringan pasar: Pemkab + Disperindag jembatani: kompos jangkos Bulungan masuk program subsidi pupuk organik, RDF jual ke PLTU Tarakan.

4. Digitalisasi: Aplikasi “Lapor Jangkos” buat PKS. Upload foto timbunan, DLH bisa pantau real-time.

Output: 5 TPS 3R jangkos + 1 unit hilirisasi + aplikasi monitoring jalan

Tahap 5: Zero Waste & Branding - "Bulungan = Sawit Berkelanjutan" 3-5 tahun

Tujuan: Jadikan Bulungan contoh nasional.

1. Target 100% zero waste: Nggak ada lagi jangkos dibuang/dibakar. Semua masuk rantai nilai: mulsa, kompos, RDF, biogas.

2. Sertifikasi karbon: Hitung karbon yang disimpan dari mulsa jangkos. Ajukan skema karbon credit → PKS + pekebun dapat insentif tambahan.

3. Branding CPO Bulungan: “CPO Bulungan = CPO Zero Waste Jangkos”. Ini nilai jual tinggi buat ekspor ke Eropa yang minta traceability.

4. Pusat pembelajaran: Bulungan jadi tempat studi banding kabupaten sawit lain. DLH + UPTD jadi narasumber nasiona