KATROL OBH (Kantong Kontrol Obat Hipertensi)

PERMASALAHAN

Hipertensi menjadi masalah kesehatan di seluruh belahan dunia dan sebagai salah satu faktor risiko utama penyakit kardiovaskular. Hipertensi juga disebut sebagai penyakit tidak menular, karena hipertensi tidak ditularkan dari orang ke orang. Penyakit tidak menular adalah penyakit kronis yang tidak dapat ditularkan ke orang lain. Penyakit tidak menular masih menjadi salah satu masalah kesehatan yang menjadi perhatian di Indonesia saat ini. Hal ini dikarenakan munculnya PTM secara umum disebabkan oleh pola hidup setiap individu yang kurang memperhatikan kesehatan (Riskesdas, 2018). Data yang dikeluarkan oleh WHO (2018) menunjukkan bahwa sekitar 26,4% penduduk dunia mengalami hipertensi dengan perbandingan 26,6% pria dan 26,1% wanita. Sebanyak kurang lebih 60% penderita hipertensi berada di negara berkembang, termasuk Indonesia.

Menurut data yang telah dikeluarkan oleh Departemen Kesehatan, hipertensi dan penyakit jantung lain meliputi lebih dari sepertiga penyebab kematian, dimana hipertensi menjadi penyebab kematian kedua setelah stroke. Dari beberapa isu tersebut penulis melihat bahwa kurang optimalnya program pengelolaan penyakit kronis pada pasien hipertensi yang tidak rutin kontrol ini merupakan isu yang harus dipecahkan segera karena dampak yang akan ditimbulkan bagi pasien hipertensi jika tidak ditangani khusus. Pasien hipertensi beresiko terkena stroke, serangan jantung, dan penyakit kronis lainnya.

Pasien dengan riwayat tekanan darah tinggi ini memang sulit untuk terdeteksi karena kebanyakan masyarakat menganggap penyakit ini tidak berbahaya sehingga cenderung meremehkan. Padahal pada banyak kasus terjadinya stroke itu dimulai dari tekanan darah yang sering tinggi sehingga terjadi penyumbatan pada pembuluh darah di kepala, yang akibat fatalnya dapat menyebabkan pendarahan otak. 

Hipertensi dijuluki sebagai Silent Killer atau sesuatu yang secara diam-diam dapat menyebabkan kematian mendadak para penderitanya. Kematian terjadi akibat dari dampak hipertensi itu sendiri atau penyakit lain yang diawali oleh hipertensi. Oleh sebab itu, penderita berusaha melakukan kepatuhan mendisiplinkan diri terhadap makanan maupun gaya hidupnya. Penyakit hipertensi juga merupakan the silent disease karena orang tidak mengetahui dirinya terkena hipertensi sebelum memeriksakan tekanan darahnya. (Septianingsih, Dea Gita 2018). Maka dari itu banyak dari penderita hipertensi mengalami kematian secara mendadak karena kurangnya kepatuhan menjaga pola makan maupun memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan


ISU STRATEGIS

Adapun beberapa permasalahan yang dihadapi petugas kefarmasian yaitu :

  1. Pasien lansia kesulitan untuk rutin ke puskesmas dikarenakan tidak ada yang mengantar karena letak puskesmas jauh dari rumah.

  2. Terdapat pasien yang belum mengerti dampak atau bahaya jika tidak meminum obat rutin antihipertensi.

  3. Kartu kontrol yang diberikan ke pasien mudah hilang.

  4. Koordinasi dengan pemegang program serta tenaga kesehatan lain untuk menentukan jadwal kunjungan rumah bagi pasien yang tidak bisa berkunjung langsung ke puskesmas dengan berbagai hambatan.


METODE PEMBAHARUAN

Kondisi Sebelum Inovasi

Sebelum inovasi, pengelolaan hipertensi di puskesmas menghadapi berbagai kendala. Banyak pasien, terutama lansia, kesulitan mengakses layanan kesehatan karena jarak puskesmas yang jauh, pemahaman pasien tentang pentingnya pengobatan rutin dan konsekuensi jika tidak menjalani kontrol secara teratur juga masih kurang, pemantauan kepatuhan pengobatan dan jadwal kontrol kurang efektif karena kartu kontrol mudah hilang dan koordinasi antar tenaga kesehatan belum optimal. Akibatnya, jumlah pasien hipertensi yang terpantau dan mendapatkan layanan kesehatan masih terbatas.

Kondisi Setelah Inovasi

Setelah inovasi diterapkan, jangkauan layanan kesehatan menjadi lebih luas. Edukasi yang diberikan melalui leaflet dan penjelasan dari petugas farmasi meningkatkan pemahaman pasien tentang pentingnya kepatuhan terhadap pengobatan. Sistem "KATROL OBH" membantu dalam memantau kepatuhan pasien terhadap jadwal minum obat dan kontrol, serta meningkatkan koordinasi antar tenaga kesehatan. 



KEUNGGULAN/KEBAHARUAN

Mendapatkan lebih banyak pasien dengan riwayat hipertensi dibandingkan dengan data awal dari pemegang program. Pasien merasa diperhatikan sehingga kunjungan beberapa pasien menjadi lebih rutin dari sebelumnya, meskipun masih terdapat kendala-kendala yang dihadapi. Penggunaan KATROL OBH memudahkan petugas farmasi dalam melihat pasien hipertensi terkait jadwal kapan mereka harus mendapatkan obat kembali. Penggunaan leaflet efektif untuk membantu pasien untuk meningkatkan terkait pentingnya rutin minum obat hipertensi utnuk menghindari penyakit yang lain.


TAHAPAN/BISNIS PROSES INOVASI

Metode yang dilakukan yakni akan berhubungan dengan alur kegiatan yang dilaksanakan. Yang akan dijelaskan sebagai berikut:

  1. Mengumpulkan data pasien hipertensi di puskesmas. Ini dilakukan dengan berkoordinasi dengan pemegang program prolanis bertujuan untuk keakuratan data.

  2. Membuat kantong kontrol obat hipertensi.

  3. Membuat Leaflet tentang penggunaan obat antihipertensi. Hal ini dilakukan untuk mendukung kegiatan KATROL OBH.Leaflet mengacu pada referensi yang sesuai.

  4. Leaflet akan dicetak sesuai kebutuhan dan diletakkan pada kotak leaflet yang tersedia sehingga pasien dapat mengambil dengan mudah.

  5. Saat kegiatan berjalan. Petugas farmasi akan memberikan kartu kontrol yang berisi jadwal pasien untuk kembali datang untuk cek tekanan darah dan mendapatkan obat tekanan darah yang sesuai. Tahapan dapat dirincikan :

  • Memanggil pasien berdasarkan urutan antrian pengambilan obat.

  • Memberikan informasi obat serta memberikan kartu kontrol kunjungan kembali.

  • Menelpon atau mengirim pesan singkat kepada masing-masing pasien 1 hari sebelum jadwal kontrol.

      6.  Kunjungan Rumah Pasien Hipertensi. Hal ini akan mungkin dilakukan jika      pasien dalam kondisi tertentu yang tidak memungkinkan pasien bisa datang ke pelayanan puskesmas. Namun hal ini dilakukan dengan :

  • Berkoordinasi dengan pemegang program.

  • Menentukan pasien yang akan dikunjungi.