PRO TANI BULUNGAN (Percepatan Program Pewilayahan Pertanian Berbasis Komoditas Unggulan Kabupaten Bulungan)

DASAR HUKUM

  1. Peraturan Menteri Pertanian Nomor 50/Permentan/OT.140/8/2012 tentang Pedoman Pengembangan Kawasan Pertanian
  2. Peraturan Menteri Pertanian Nomor 08/Permentan/OT.400/2/2026 tentang Pedoman Perencanaan Perkebunan Berbasis Spasial
  3. Peraturan Menteri Pertanian Nomor 46/Kpts/PD.300/1/2015 Tentang Penetapan Kawasan Perkebunan Nasional

PERMASALAHAN

Percepatan Program Perwilayahan Pertanian Berbasis Komoditas Unggulan merupakan program untuk menciptakan spesialisasi setiap kawasan baik setiap desa atau klaster beberapa desa melalui Penetapan Kawasan Sentra Produksi (KSP) untuk menciptakan pembangunan bidang pertanian yang lebih fokus, skala luas dan besar agar produksi pertanian secara kuantitas cukup besar.

Program perwilayahan pertanian di Indonesia bertujuan untuk mengembangkan komoditas unggulan di setiap daerah sesuai dengan potensi lokal. Kementerian Pertanian melalui Rencana Strategis (Renstra) 2020–2024 menetapkan arah kebijakan pembangunan pertanian yang berkelanjutan dan berorientasi pada Kawasan seperti Food Estate: (Pengembangan kawasan pertanian skala besar di beberapa provinsi seperti Kalimantan Tengah dan Sumatera Utara), korporasi petani dan kawasan sentra produksi

Potensi pertanian Bulungan mempunyai prospek yang cukup besar karena terdapat beberapa proyek besar skala nasional dan internasional. Bulungan sebagai ibukota provinsi Kaltara akan terbentuk Kota Baru Mandiri Tanjung Selor menjadi pusat pemerintahan, Pendidikan dan Kawasan perkotaan. Pengembangan energi hijau terbarukan yaitu PLTA Sungai Kayan di Kecamatan Peso dan Kawasan Industri Hijau Indonesia (KIHI) dan Kawasan Industri Pelabuhan Internasional (KIPI) di Tanah-Mangkupadi Kecamatan Tanjung Palas Timur seluas 10.156 hektar dengan perkiraan tenaga kerja mencapai 150.000 jiwa memerlukan jumlah pangan yang besar. Pembangunan berbagai Kawasan tersebut menjadi tantangan sekaligus peluang bagi bagi Bulungan. Adanya investasi yang sangat besar itu dapat dimanfaatkan Bulungan untuk mempersiapkan seluruh kebutuhan Kawasan terutama bidang pertanian baik tanaman pangan, hortikultura, Perkebunan, perikanan dan peternakan. Potensi wilayah yang besar terutama pangan di Kawasan food estate di Tanjung Buka Kecamatan Tanjung Palas Tengah dapat diciptakan lumbung pangan baik untuk kebutuhan penduduk Bulungan maupun skala regional Provinsi Kalimantan Utara. Disamping itu juga pengembangan Kawasan Lanskep Sungai Kayan melalui program IAD (Integrated Areal Development) yang terdiri dari 4 kecamatan akan meningkatkan kesejahteraan petani, Program IAD mengoptimalkan fungsi hutan melalui pola perhutanan sosial dengan model agrosilvopastura (integrasi pertanian, kehutanan dan peternakan). Melalui proyek perubahan ini diharapkan pengembangan pertanian dalam arti luas dapat berkembang lebih baik dan dapat menciptakan petani yang maju, mandiri dan modern.

Kondisi Bidang Pertanian Kabupaten Bulungan saat ini adalah sebagian besar pertanian masih bersifat tradisional, usaha tani berskala kecil, rendahnya SDM petani, pelaksanan mekanisasi pertanian yang belum optimal dan belum jelas arah pengembangan dan pembangunan bidang pertanian.

ISU STRATEGIS

Namun demikian Pembangunan pertanian belum sepenuhnya menghasilkan produk yang diinginkan. Berdasarkan hasil identifikasi permasalahan diperoleh beberapa isu strategis yaitu :

  • belum optimalnya penggunaan kawasan pertanian seluas 241.000 ha dari rencana tata ruang wilayah kabupaten bulungan untuk kawasan pertanian yaitu 244.856 ha
  • Belum terpenuhi kebutuhan pangan sendiri sebesar 49 % penduduk Kabupaten Bulungan
  • Mekanisasi pertanian hanya dilaksanakan sebagian petani kurang lebih 30% dari jumlah petani
  • Pola budidaya petani masih tradisional dengan cakupan 60 % dari jumlah petani
  • Keterbatasan akses perbankan untuk permodalan usaha tani.

METODE PEMBAHARUAN

Kondisi Sebelum Inovasi

  1. Model perwilayahan Masih menerapkan pewilayahan pertanian secara kaku dan terpisah dari sektor kehutanan (siloisasi dinas).
  2. Integrasi masih bersifat umumnya menggunakan Sekolah Lapangan Pertanian (SLP) konvensional yang hanya fokus pada satu komoditas dan tidak fokus di satu wilayah.
  3. Orientasi Pewilayahan pangan hanya berdasarkan analisis surplus-defisit internal atau target swasembada daerah bersifat pasif, tidak memperhatikan orientasi geografis ekonomi.
  4. penentuan komoditas unggulan sering kali bersifat top-down dari instruksi pusat atau sekadar mengikuti tren pasar sesaat tanpa melihat kecocokan struktur ekonomi wilayah secara jangka panjang.

Kondisi Setelah Inovasi

Sistem pertanian yang terstruktur, terintegrasi dari hulu ke hilir dan berdaya saling sehingga perencanaan pembangunan pertanian dapat tepat sasaran dan berkelanjutan.

  1. Model Kawasan Terpadu Lintas Sektor: Integrated Area Development (IAD), Pembaharuan utama Bulungan terletak pada penerapan metode Integrated Area Development (IAD) berbasis bentang alam (seperti Lanskap Kayan). Bulungan mengintegrasikan perhutanan sosial dengan pertanian komoditas unggulan (seperti kakao, durian, langsat, dan kopi). Pembaharuan di Bulungan memecah ego sektoral tersebut dengan menggabungkan perlindungan lingkungan (pembangunan hijau) sekaligus peningkatan ekonomi petani melalui komoditas bernilai tinggi.
  2. Integrasi Berbasis Sistem Agrosilvopastura di Koridor Barat, Di wilayah seperti Kecamatan Peso (Koridor Barat), Pemkab Bulungan menerapkan sistem agrosilvopastura, yaitu metode pengelolaan lahan yang memadukan pertanian, kehutanan, dan peternakan secara simultan dalam satu kawasan dengan melibatkan multi-aktor (petani, mahasiswa, dan penyuluh) untuk menguasai ekosistem pertanian terpadu.
  3. Orientasi Geografis Ekonomi: Penyangga Industri Hijau (KIPI) dan IKN, Langkah percepatan pewilayahan pertanian di Bulungan tidak bersifat pasif. Zonasi komoditas pangan secara sengaja dipetakan untuk menangkap peluang pasar dari Proyek Strategis Nasional (PSN) Kawasan Industri Hijau Indonesia (KIHI) dan Kawasan Industri dan Pelabuhan Internasional (KIPI) Tanah Kuning-Mangkupadi serta bersiap menjadi penyangga pangan Ibu Kota Nusantara (IKN). Bulungan secara agresif melakukan up-scaling volume dan pemetaan wilayah sentra agar hasil panennya langsung terserap oleh ekosistem industri besar dan kawasan pertumbuhan baru.
  4. Pendekatan Analisis Tipologi Eksak untuk Penentuan Basis, Metode penentuan komoditas unggulan tidak lagi berdasarkan "kebiasaan", melainkan menggunakan kombinasi analisis ilmiah seperti Location Quotient (LQ), Dynamic Location Quotient (DLQ), Shift-Share, dan Tipologi Klassen (Analisis Skalogram) untuk memetakan keunggulan kompetitif di tiap kecamatan

KEUNGGULAN/KEBAHARUAN

Inovasi PRO TANI memiliki keunggulan/kebaharuan, sebagai berikut:

  1. Penerapan metode Integrated Area Development (IAD) berbasis bentang alam (seperti Lanskap Kayan)Terciptanya skala ekonomi dengan sistem perwilayahan
  2. metode pengelolaan lahan yang memadukan pertanian, kehutanan, dan peternakan secara simultan dalam satu kawasan
  3. melakukan up-scaling volume dan pemetaan wilayah sentra agar hasil panennya langsung terserap oleh ekosistem industri besar dan kawasan pertumbuhan baru
  4. Metode penentuan komoditas unggulan menggunakan kombinasi analisis ilmiah

TAHAPAN INOVASI/BISNIS PROSES INOVASI

Inovasi PRO TANI dalam tahapan inovasi/bisnis proses inovasi :

1. Pembentukan Tim Agile

  1. Lapor ke mentor
  2. Rapat pembentukan Tim
  3. Penyusunan SK Tim
  4. Penandatangan SK

2. Penyusunan Draft Grand Desain Pertanian (Bulan Mei Minggu ke-4 dan Bulan Agustus Minggu ke-1 sampai minggu ke-4)

  1. Rapat Persiapan
  2. Rapat Tim Penyusunan Lapdal
  3. Seminar Lapdal
  4. Rapat Tim Penyusunan Lap Antara
  5. Rapat Internal Tim Teknis
  6. FGD Lap Antara
  7. Rapat Tim Penyusunan Draft Laporan Akhir
  8. Rapat Internal Tim Teknis
  9. Seminar Lap Akhir

3. Penyusunan Rancangan Perbup Grand Desain Pertanian (Bulan September minggu ke-2 dan minggu ke-3)

  1. Rapat Pendahuluan
  2. Rapat Tim Penyusunan Draft Ranperbup
  3. FGD Draft Ranperbup
  4. Rapat Tim Penyelesaian Ranperbud

4. Hilirisasi Produk Pertanian (Bulan Agustus Mingguke-4 dan september Minggu ke-1

  1. FGD Stakeholders
  2. Penetapan Kelayakan Bisnis
  3. Pelatihan Pelaku Usaha Rumah Produksi
  4. Launching Produk