Keputusan Menteri Nomor 285 Tahun 2008 mengenai strategi nasional Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) menyebutkan bahwa jamban sehat adalah fasilitas pembuangan tinja yang efektif untuk memutuskan mata rantai penularan penyakit. Jamban sehat merupakan fasilitas sanitasi keluarga yang harus dimiliki oleh setiap rumah Salah satu masalah kesehatan yang menjadi penyebab tidak adanya jamban sehat adalah diare (Hayati et al., 2021). Selain itu, WHO juga menyebutkan bahwa diare merupakan penyebab kematian yang paling besar yang mencapai angka 1.400.000 jiwa dalam setiap tahun. Akar dari kematian tersebut adalah berasal dari sanitasi dan kualitas air yang buruk (Sari, 2020). Penelitian lain juga menyebutkan bahwa penyakit diare lebih banyak menyerang pada negara berkembang daripada negara maju ialah disebabkan karena masih sedikitnya air minum yang layak konsumsi, status kesehatan masyarakat, buruknya gizi serta kurangnya kesadaran akan kebersihan dan sanitasi (Savitri &Susilawati, 2022).
Permasalahan yang dihadapi adalah rendahnya kesadaran dan akses masyarakat terhadap sanitasi, khususnya penggunaan jamban sehat, yang menyebabkan praktik Buang Air Besar Sembarangan (BABS) masih meluas. Hal ini melibatkan keterbatasan akses terhadap fasilitas sanitasi dan air bersih (faktor lingkungan), kebiasaan yang membenarkan BABS, serta kurangnya kesadaran akan risiko kesehatan (faktor perilaku). Oleh karena itu, program inovasi JASUKE hadir untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dengan jamban sehat karena dapat mengurangi kontaminasi air dan tanah. Selain itu, JASUKE mendorong perubahan perilaku dan kebiasaan hidup bersih dan sehat melalui sosialisasi dan mekanisme arisan.
Di Era moderen saat ini bahwa perilaku masyarakat masih tertinggal sehingga harus di lakukan perbaikan terhadap sanitasi, lingkungan dan air bersih. Secara substansial akan mengurangi tingkat kesakitan dan tingkat keparahan berbagai penyakit sehingga dapat meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Tantangan pembangunan sanitasi di Indonesia adalah masalah sosial budaya dan perilaku penduduk yang terbiasa buang air besar (BAB) di sembarang tempat, khususnya ke badan air yang juga digunakan untuk mencuci, mandi dan kebutuhan higienis lainnya.
Kondisi sebelum inovasi Banyaknya masyarakat masih BAB disungai dan tempat-tempat yang tidak semestinya. Kondisi setelah inovasi
Adanya perubahan perilaku BAB menggunakan fasilitas yang layak.
Keunggulan yang ditawarkan dari inovasi ini adalah adanya mekanisme arisan yang memunculkan komitmen kuat agar memiliki jamban sehat serta budaya gotong royong dalam pemberdayaan masyarat.
1. sosialisasi kepada masyarakat yang belum memiliki jamban
2. pemicuan STBM
3. penguatan komitmen masyarakat melalui sistem arisan
4. pengumpulan dana arisan
5. persiapan pembangunan jamban
6. pembangunan jamban secara gotong royong
7. evaluasi perilaku dan sarana prasarana